Setelah Naik 17%, IHSG Sesi 1 Ditutup Turun 0,84%

mkh, CNBC Indonesia
Rabu, 17/06/2026 12:35 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (8/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi pada akhir sesi hari ini, Rabu (17/6/2026). Koreksi ini terjadi setelah IHSG naik 17,09% dalam lima hari perdagangan terakhir sejak penutupan terendah pada 8 Juni 2026. 

IHSG tercatat turun 52,5 poin atau -0,84% ke level 6.202,47. Pada pagi tadi,IHSG masih berada di zona hijau dan sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.377,19.Indeks secara konsisten merosot menjelang akhir sesi 1.

Sebanyak 418 emiten turun, 288 naik, dan 253 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga jeda makan siang mencapai Rp 16,29 triliun, melibatkan 20,3 miliar saham dalam 1,53 juta kali transaksi.


Nilai transaksi pada sesi 1 sebagian besar disumbang oleh Merdeka Gold Resources (EMAS). Emiten milik Edwin Soeryadjaya dan Winato Kartono itu mencatat transaksi Rp 2,81 triliun di pasar negosiasi. 

Mengutip Refinitiv, sektor utilitas turun paling dalam, yakni -8,05%. Kemudian diikuti bahan baku -2,17% dan energi -2,08%. Tercatat hanya teknologi dan industri yang menutup sesi 1 di zona hijau. 

Adapun Barito Renewables Energy (BREN) menjadi pemberat utama IHSG siang ini. BREN yang anjlok 10,59% menyumbang -16,6 poin. 

Kemudian Bank Mandiri (BMRI), Sinar Mas Multiartha (SMMA), hingga Aman Mineral (AMMN) juga masuk dalam top laggards. 

Di posisi sebaliknya, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Central Asia (BBCA) yang masih berhasil menguat hingga hari ini menjadi penopang IHSG tidak jatuh dalam. 

Sebagai informasi, secara persentase, apabila indeks mengalami kenaikan sebesar 20% dari titik terendah tersebut, maka batas konfirmasi bull market akan berada di level 6.381,49. 

Dari sudut pandang analisis teknikal, momentum pemulihan ini membutuhkan serangkaian konfirmasi penembusan level resistensi. Semenjak menyentuh titik terendah pada 8 Juni lalu, IHSG diwajibkan untuk mampu ditutup di atas level 5.800 pada daily chart guna mengkonfirmasi pembalikan arah.

Syarat ini akhirnya berhasil dipenuhi oleh pasar, sebuah pergerakan yang sebelumnya juga telah diproyeksikan dan dibahas secara komprehensif dalam newsletter CNBC Indonesia Research edisi 9 Juni 2026.

Lebih lanjut, untuk benar-benar memvalidasi kembalinya pasar ke dalam fase bullish yang solid secara jangka menengah, IHSG masih memiliki satu target utama pada minggu ini.

Indeks dituntut untuk berhasil melakukan reclaim dan menutup weekly candle di atas level 6.452,78 pada akhir pekan ini. Tercapainya target teknikal mingguan tersebut tentu sangat bergantung pada asumsi dasar bahwa iklim investasi di Indonesia dan perekonomian dunia tetap berada dalam kondisi yang terkendali.

Di sisi domestik, pemulihan IHSG ditopang oleh langkah antisipatif dari pemerintah beserta jajaran pemangku kepentingan institusional. Pemerintah telah mengomunikasikan adanya sense of awareness yang tinggi terhadap dinamika pasar modal dan stabilitas makroekonomi nasional.

Komitmen ini direpresentasikan melalui pertemuan strategis yang digelar pada Selasa, 9 Juni 2026, yang melibatkan Sufmi Dasco Ahmad bersama para pimpinan bank Himbara, Indonesia Investment Authority (INA), BPJS, Taspen, serta Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria.

Pertemuan tingkat tinggi ini memberikan sinyal adanya koordinasi terpusat dan kesiapan likuiditas institusi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Langkah mitigasi tersebut langsung direspons dengan tren bullish oleh para pelaku pasar sejak pekan lalu.

Dari eksternal, kenaikan pasar saham tidak lepas dari dorongan sejumlah sentimen positif dari ranah global, salah satunya adalah perkembangan rencana perdamaian yang diinisiasi oleh Donald Trump.

Rencana tersebut mulai membuahkan hasil yang konstruktif dan secara efektif meredakan ketegangan geopolitik yang selama beberapa bulan terakhir menjadi beban bagi pasar saham global.

Selain itu, momentum penyelenggaraan ajang Piala Dunia turut memfasilitasi penurunan eskalasi konflik secara temporer di berbagai kawasan. Kondisi geopolitik yang mulai mendingin ini berdampak langsung pada terkoreksinya harga komoditas energi dunia.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bos MI Bagi Jurus Gali Cuan Reksadana Saat Pasar Bergejolak