Ekonom Ramai-Ramai Ramal Rupiah Bakal Menguat, Bisa ke Rp17.500/US$?
Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa pengamat ekonomi memperkirakan rupiah bisa kembali perkasa di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) jika kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran benar tercapai minggu ini.
Bahkan, beberapa ekonom memperkirakan rupiah bisa kembali menyentuh Rp17.500 per US$ jika kesepakatan tersebut terwujud.
Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, Myrdal Gunarto mengatakan penguatan rupiah bisaa terus terjadi jika kesepakatan damai tersebut benar terwujud.
"Dengan adanya penurunan tensi geopolitik setelah kesepakatan damai terwujud, kami melihat ada sinyal positif bagi pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia, dan ini menjadi sinyal positif bagi rupiah," kata Myrdal kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (15/6/2026).
Myrdal pun memprediksi jika kesepakatan damai tersebut benar terwujud, maka bukan tidak mungkin satu dolar kembali mencapai Rp17.500.
"Potensi rupiah ke level Rp17.500/US$ itu memang ada, jika kesepakatan damai terwujud, dan level resistance rupiah kami tentukan di Rp17.426/US$," lanjut Myrdal.
Meski begitu, perlu ada sentimen lain untuk mendukung kuat agar rupiah bisa terapresiasi lebih besar lagi, mulai dari penurunan harga minyak global, fundamental perusahaan yang cukup menarik, dan lain-lain.
"Penguatan rupiah juga perlu didukung penurunan harga minyak ke bawah level US$80 per barel, membuat arus imbal hasil asing semakin deras, juga didukung oleh fundamental perusahaan yang menarik," terang Myrdal.
Sedangkan Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan kesepakatan damai AS-Iran bisa menjadi katalis positif bagi rupiah.
"Rencana kesepakatan damai AS-Iran dapat menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan Indonesia, termasuk rupiah, bisa saja menguat ke level Rp17.500/US$. Tapi untuk bertahan di level tersebut, membutuhkan kombinasi yang cukup kuat," kata Josua.
Josua menambahkan, potensi penguatan rupiah ke level Rp17.500/US$ masih bersifat sementara dan untuk bertahan di level tersebut masih cukup sulit, karena masih ada sentimen lainnya yang dapat mempengaruhi rupiah seperti keputusan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dan kondisi di dalam negeri.
"Terkait peluang rupiah menguat ke Rp17.500 per dolar AS pekan ini, menurut saya level tersebut bisa diuji, tetapi belum menjadi skenario utama. Untuk mencapai Rp17.500, rupiah membutuhkan kombinasi yang cukup kuat, seperti penandatanganan kesepakatan berjalan lancar, harga minyak turun lebih jauh, dolar AS melemah, arus modal asing masuk ke SBN dan SRBI berlanjut, serta tidak ada kejutan negatif dari kebijakan domestik," jelas Josua.
Terkait kisaran level rupiah, ia memasang di rentang Rp17.550 - Rp17.850 per US$.
Sementara itu, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual memprediksi rupiah bisa menguat ditopang oleh kabar kesepakatan damai AS-Iran. Namun di pekan ini, pihaknya memprediksi rupiah belum akan menyentuh level psikologis Rp17.500/US$.
"Kesepakatan ini menjadi sinyal positif bagi pasar global, bukan cuma Indonesia. Terdapat potensi untuk rupiah melanjutkan penguatan dibandingkan level saat ini, dengan syarat tambahan katalis selain dari perjanjian damai AS-Iran tadi, seperti keputusan rapat The Fed yang less-hawkish, ketenangan geopolitik yang lebih meyakinkan pasar, serta aksi BI yang pro-stabilitas dapat berkontribusi pada penguatan kurs," kata David.
David pun memperkirakan rupiah masih bergerak di rentang Rp17.700-Rp17.800 per US$ pada pekan ini, karena masih banyak sentimen penggeraknya, selain dari kesepakatan damai AS-Iran.
"Mengasumsikan tidak adanya faktor positif atau negatif lain yang akan muncul sepekan ini, kami memperkirakan rupiah masih berada di kisaran Rp17.700 - 17.800 per dolar AS," ungkapnya.
(haa/haa) Add
source on Google