Sesi 1 Pesta Cuan! IHSG Terbang 5% ke 6.300
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat signifikan pada perdagangan sesi I hari ini, Senin (15/6/2026). Indeks melesat 302,07 poin atau 5,03% ke level 6.309,73, melanjutkan reli tajam yang sudah berlangsung sejak pekan lalu.
Menariknya, penguatan kali ini tidak hanya ditopang segelintir saham berkapitalisasi besar, tetapi juga terjadi secara merata di hampir seluruh sektor perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 690 saham menguat, sementara hanya 92 saham melemah dan 177 saham bergerak stagnan. Rasio saham naik terhadap saham turun mencapai lebih dari tujuh banding satu, mencerminkan kuatnya sentimen positif di pasar.
Dari sisi sektoral, seluruh sektor utama bergerak di zona hijau, dipimpin oleh sektor bahan baku yang melonjak 10,02%. Selanjutnya sektor utilitas 7,51%, keuangan 4,65%, dan konsumen non-primer 4,18%.
Sementara itu, sektor energi naik 3,80%, barang konsumsi primer 3,39%, industri 2,90%, real estate 2,36%, dan teknologi 2,23%. Hanya sektor kesehatan yang masih bergerak negatif tipis.
Meski sektor bahan baku menjadi pemimpin kenaikan, penggerak utama IHSG tetap berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan indeks dengan sumbangan 42,16 poin. Di bawahnya terdapat PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang menyumbang 19,51 poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar 18,82 poin, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar 16,43 poin, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sebesar 16,41 poin.
Saham-saham lain yang turut menopang laju indeks antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT).
Kombinasi penguatan saham perbankan, emiten sumber daya alam, hingga saham infrastruktur menunjukkan reli pasar kali ini berlangsung cukup luas dan tidak bergantung pada satu sektor tertentu.
Kenaikan IHSG kali ini juga ditopang oleh nilai transaksi besar. Hingga akhir sesi I nilai transaksi mencapai Rp17,16 triliun dengan volume perdagangan 30,33 miliar saham dalam 1,88 juta kali transaksi.
Adapun pergerakan pasar keuangan pada hari ini didominasi oleh sinyal perang berakhir yang semakin kencang.
Amerika Serikat dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang mereka. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan telah selesai, sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan perjanjian tersebut mencakup penghentian permanen operasi militer, termasuk di Lebanon.
Kesepakatan itu juga disebut akan membuka kembali Selat Hormuz, mengakhiri blokade laut AS terhadap Iran, dan memperpanjang gencatan senjata. Penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat mendatang.
Dalam postingan di media sosial, Trump mengatakan bahwa selat Hormuz akan dibuka pada hari Jumat, hari di mana upacara penandatanganan perjanjian damai resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss.
"Dengan dibukanya Selat Hormuz setelah penandatanganan Perjanjian pada hari Jumat, untuk tujuan pembersihan ranjau, minyak akan mengalir kembali di kedua ujungnya bagi kawasan ini, dan dunia!" katanya.
Seperti diketahui, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz sebelum lalu lintas kapal tanker anjlok pada awal Maret akibat serangan Iran. Gangguan di Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif telah mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mengumumkan penghentian segera dan permanen atas operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon. Perdana Menteri Pakistan tersebut telah bertindak sebagai mediator antara Amerika Serikat dan Iran.
Selain itu, fokus utama pasar akan tertuju pada rapat suku bunga Bank Indonesia dan The Federal Reserve (The Fed), data konsumsi Amerika Serikat, serta sederet indikator ekonomi China yang selama ini menjadi barometer permintaan komoditas dunia. Bagi Indonesia, kombinasi data tersebut akan berpengaruh terhadap pergerakan rupiah, IHSG, pasar obligasi, hingga prospek sektor komoditas seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit mentah (CPO).
(mkh/mkh) Add
source on Google