IHSG Stagnan di Level 6.000an, BBRI dan BMRI Jaga Gawang
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup nyaris stagnan pada perdagangan hari ini, Rabu (15/6/2026).
IHSGÂ ditutup hanya bergerak 2,45 poin atau 0,04% ke level 6.041,97. Sebanyak 348 saham naik, 286 turun, dan 331 tidak bergerak.Â
Pada perdagangan hari ini, volume pasar masih lesu. Nilai transaksi masih dibawah rata-rata harian, yakni Rp 11,12 triliun, melibatkan 21,54 miliar saham dalam 2 juta kali transaksi.Â
IHSGÂ masih bergerak dengan volatilitas tinggi sampai dengan hari ini. IHSGÂ sempat menyentuh level tertinggi di 6.081,23 (+0,69%) dan titik terendah 6.007,17 (-0,54%).
Mengutip Refinitiv, sektor kesehatan, konsumer primer, teknologi, dan konsumer nonprimer yang mengganjal IHSG untuk bergerak naik lebih jauh. Sementara itu utilitas, bahan baku, dan properti memegang peran sebaliknya hari ini.Â
Emiten bank jumbo masih menjadi penopang utama IHSG. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) berkontribusi 5,84 poin dan Bank Mandiri (BMRI) 3,27 poin. Selain itu AMMN, BREN, ANTM, hingga RMKE juga masuk dalam top movers hari ini.Â
Sebaliknya, Telkom Indonesia (TLKM), Capital Financial Indonesia (CASA), dan Bumi Resources Minerals (BRMS) menjadi saham yang mengganjal IHSG. Selain itu SRAJ hingga INKP masuk dalam top laggards hari ini.Â
Adapun dalam acara Investment Forum 2026CNBC Indonesia Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa fundamental ekonomi dan pasar keuangan Indonesia kuat. Hal ini seiring dengan keputusan S&P yang mempertahankan rating surat utang RI yang masih masuk dalam investment grade (BBB) dengan outlook stabil.
Dirinya juga menilai keputusan S&P tersebut ikut membantu mengurangi ketidakpastian, sehingga investor dapat mengambil keputusan investasi dengan lebih baik.
Lebih lanjut Jeffrey menilai setelah S&P masih akan ada kabar-kabar baik lainnya yang akan datang dan mampu memberikan tenaga kepada pergerakan indeks acuan pasar modal Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai pelemahan pasar saham Indonesia lebih dipengaruhi oleh sentimen dan persepsi investor ketimbang memburuknya fundamental emiten maupun kondisi ekonomi domestik.
Menurut Misbakhun, indikator makroekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja yang solid. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, inflasi, hingga kondisi sektor perbankan masih berada dalam kondisi yang baik sehingga tidak seharusnya memicu arus modal keluar dan membuat tekanan di pasar saham.
Di sektor keuangan, Misbakhun menegaskan kondisi perbankan nasional tetap sehat. Menurutnya, tidak ada bank yang memerlukan penanganan khusus dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sementara itu, dari sisi korporasi, ia mengakui terdapat sejumlah persoalan pada emiten sektor infrastruktur maupun beberapa kasus gagal bayar. Namun, ia menilai dampaknya terhadap sistem keuangan secara keseluruhan masih terbatas dan pemerintah telah menyiapkan langkah penyelesaian.
Ia juga menyoroti emiten-emiten perbankan, khususnya bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yang tetap membukukan kinerja kuat dan konsisten membagikan dividen kepada pemegang saham.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]