Harga Minyak Anjlok 4% Usai Trump Umumkan Kesepakatan Damai AS-Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia ambruk pada awal perdagangan pekan ini setelah Amerika Serikat dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan damai yang membuka jalan bagi kembali normalnya lalu lintas energi di Selat Hormuz. Sentimen tersebut langsung menghapus sebagian premi risiko geopolitik yang selama beberapa pekan terakhir menopang harga minyak di level tinggi.
Berdasarkan data Refinitiv hingga Senin (15/6/2026) pukul 08.00 WIB, harga minyak Brent berada di US$83,92 per barel, merosot 3,91% dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu di US$87,33 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dalam, yakni 4,58%, ke posisi US$80,99 per barel dari sebelumnya US$84,88 per barel.
Penurunan ini memperpanjang koreksi tajam yang telah berlangsung sejak awal Juni. Brent yang sempat diperdagangkan di level US$97,81 per barel pada 3 Juni kini telah kehilangan hampir 14% nilainya. WTI bahkan terkoreksi lebih dari 15% dari posisi puncak US$96,02 per barel yang tercatat pada periode yang sama.
Reuters melaporkan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa kesepakatan telah dicapai antara Washington dan Teheran. Presiden Donald Trump turut menyatakan bahwa kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Pasar selama ini menjadikan Selat Hormuz sebagai sumber kekhawatiran utama. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut. Ancaman gangguan pasokan dari kawasan Teluk membuat harga energi sempat melonjak tajam sepanjang konflik berlangsung. Ketika risiko itu mulai mereda, investor segera mengurangi posisi spekulatif yang sebelumnya dibangun untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan.
Meski demikian, rincian kesepakatan masih menjadi tanda tanya. Iran menyebut pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz akan dilakukan bersama Oman. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan baru mengenai mekanisme pelayaran dan potensi biaya tambahan yang mungkin dikenakan terhadap kapal-kapal yang melintas.
Analis pasar valuta asing ITC Markets Sean Callow menilai minimnya detail terkait kebebasan pelayaran memang masih menyisakan ketidakpastian. Namun, pasar saat ini lebih fokus pada membaiknya selera risiko global dan peluang turunnya harga energi dalam jangka menengah.
Penurunan harga minyak segera mengubah ekspektasi investor terhadap arah kebijakan bank sentral dunia. Selama beberapa bulan terakhir, lonjakan energi menjadi salah satu faktor yang dikhawatirkan dapat memicu tekanan inflasi baru. Ketika harga minyak turun tajam, ancaman tersebut ikut mereda.
Dampaknya terlihat pada pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor dua tahun turun menjadi 4,02%, sementara pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini. Bank sentral utama dunia, mulai dari Federal Reserve, Bank of England, Bank of Japan hingga Reserve Bank of Australia dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada pekan ini.
Bagi negara-negara pengimpor energi, koreksi harga minyak menjadi kabar baik. Jepang yang sangat bergantung pada impor energi mencatat reli pasar saham hingga 3%, sedangkan indeks saham Korea Selatan melonjak lebih dari 4%. Investor memandang biaya energi yang lebih rendah berpotensi memperbaiki prospek pertumbuhan ekonomi sekaligus meredakan tekanan harga.
Meski harga minyak anjlok, level saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum konflik pecah. WTI masih berada di kisaran US$81 per barel, lebih tinggi dari sekitar US$67 per barel sebelum perang dimulai. Artinya, sebagian premi risiko geopolitik masih tersisa di pasar.
Commonwealth Bank of Australia (CBA) memperkirakan Brent dapat turun menuju US$80 per barel pada akhir tahun apabila Selat Hormuz tetap terbuka dan ekspor minyak dari kawasan Teluk kembali berjalan normal. Namun, proyeksi tersebut tetap dibayangi ketidakpastian terkait kondisi fasilitas produksi dan kilang yang terdampak konflik sebelumnya.
Jika beberapa pekan lalu perhatian tertuju pada ancaman gangguan pasokan, pekan ini investor mulai menghitung seberapa cepat aliran minyak global dapat kembali normal. Selama tidak ada kejutan baru dari kawasan Timur Tengah, tekanan turun terhadap harga minyak masih berpotensi berlanjut.
CNBC Indonesia
(emb/emb) Add
source on Google