MARKET DATA

Harga Minyak Naik Tipis, Pasar Masih Tunggu Kepastian Damai AS-Iran

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
17 June 2026 08:40
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa sedikitnya 31 kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz secara aman dalam 24 jam terakhir, Jumat (22/5/2026). (via REUTERS/Majid-Asgaripour)
Foto: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa sedikitnya 31 kapal komersial, telah melintasi Selat Hormuz secara aman dalam 24 jam terakhir, Jumat (22/5/2026). (via REUTERS/Majid-Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia mulai bergerak naik pada perdagangan Rabu pagi (17/6/2026), setelah dua hari sebelumnya mengalami tekanan hebat. Pelaku pasar masih berusaha menakar apakah kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran benar-benar akan bertahan serta kapan arus minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali normal.

Menurut data Refinitiv pada pukul 08.20 WIB, harga minyak Brent berada di US$79,23 per barel, naik tipis dibandingkan penutupan sebelumnya di US$78,96 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di US$76,27 per barel, lebih tinggi dari posisi sehari sebelumnya di US$76,05 per barel.

Meski menguat pagi ini, tren mingguan minyak masih berada dalam tekanan besar. Brent telah jatuh dari US$94,25 per barel pada 8 Juni menjadi US$79,23 per barel hari ini. Dalam kurun waktu tersebut, Brent kehilangan sekitar 15,9% nilainya. WTI bahkan turun dari US$91,30 per barel menjadi US$76,27 per barel atau terkoreksi sekitar 16,5%. Penurunan tajam ini terjadi setelah pasar mulai mengantisipasi meredanya gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Fokus utama pasar masih tertuju pada perkembangan perang Iran dan prospek pembukaan kembali Selat Hormuz. Reuters melaporkan harga minyak sempat anjlok sekitar 5% selama dua sesi perdagangan berturut-turut setelah muncul harapan bahwa kesepakatan antara Washington dan Teheran akan mengembalikan lalu lintas energi melalui jalur pelayaran paling vital di dunia tersebut. Selat Hormuz merupakan jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global sehingga setiap gangguan di kawasan ini selalu memicu lonjakan premi risiko di pasar energi.

Rincian awal kesepakatan mulai terungkap pada Selasa waktu setempat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perjanjian tersebut akan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Seorang pejabat AS juga menyebut Iran akan kembali diperbolehkan menjual minyak setelah kesepakatan resmi ditandatangani. Nota kesepahaman tersebut memperpanjang gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan pada April selama 60 hari tambahan guna membuka ruang perundingan menuju perdamaian permanen.

Dalam kesepakatan itu, Amerika Serikat akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebagai imbalannya, Teheran akan membuka kembali lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz yang praktis terganggu sejak serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Harapan inilah yang mendorong aksi jual besar-besaran di pasar minyak sepanjang pekan lalu hingga awal pekan ini.

Meski demikian, pasar belum sepenuhnya yakin risiko geopolitik telah berakhir. Israel mengambil jarak dari kesepakatan yang dicapai AS dan Iran sehingga muncul pertanyaan mengenai daya tahan perjanjian tersebut. Ketegangan di kawasan juga masih terlihat setelah serangan pesawat nirawak Israel di Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya empat orang. Situasi ini membuat sebagian investor memilih menahan aksi jual lanjutan sambil menunggu kejelasan implementasi perjanjian damai.

Dari sisi fundamental, pasar juga mendapat dukungan dari data persediaan minyak Amerika Serikat. Laporan American Petroleum Institute (API) memperlihatkan stok minyak mentah AS turun 8,3 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sekitar 4,6 juta barel. Penyusutan stok yang lebih dalam dari perkiraan mengindikasikan pasokan domestik AS sedang mengetat sehingga memberikan bantalan bagi harga minyak.

Namun, sentimen permintaan global belum sepenuhnya mendukung. Data terbaru memperlihatkan tingkat pengolahan minyak mentah China pada Mei turun 9,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi yang terendah dalam hampir empat tahun. Kondisi ini memberi sinyal bahwa aktivitas kilang di negara pengimpor minyak terbesar dunia masih lesu. Perlambatan konsumsi energi China berpotensi membatasi ruang penguatan minyak meskipun ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda.

CNBC Indonesia 

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pasar Ragu AS-Iran Damai, Harga Minyak Naik Lagi ke US$98


Most Popular
Features