Saham RI Masih Tangguh, Emiten Tambang Pelat Merah Tunjukkan Buktinya

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Rabu, 10/06/2026 15:30 WIB
Foto: Infografis/ Mind ID/ Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Fundamental emiten pertambangan pelat merah di Indonesia dinilai kuat di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 32,8% secara year to date (ytd).

Bila menilik pada laporan keuangannya, seluruh anggota holding MIND ID justru mencatat kinerja yang solid dan konsisten positif sepanjang tahun lalu. Diantara emiten tersebut adalah ANTM, PTBA, TINS, dan INCO.


Pengamat BUMN Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto menilai capaian kinerja Grup MIND ID telah melampaui ekspektasi dan bukan semata-mata hasil dari kenaikan harga komoditas.

"Kinerja ini menunjukkan kemampuan MIND ID dalam integrasi hulu ke hilir bisnis yang semakin baik. Di luar windfall profit yang diperoleh karena harga komoditas yang meningkat akibat situasi geopolitik yang tidak stabil," tutur Toto tertulis, dikutip Rabu, (10/6/2026).

Selain itu, Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, fundamental emiten tambang BUMN dinilai solid lantaran secara kinerja, perusahaan mampu melampaui target tahunan. Hal ini menandakan bahwa operasional perusahaan optimal.

"Belum lagi juga kontribusi dividen ke negara, walaupun juga ada kontribusi pajak loyalty ke negara, ini bisa menjadi sinyal yang positif dari sisi cashflownya sehat. Sehingga emiten dari MIND ID ini memiliki sustainability yang baik," ungkap Nafan dihubungi terpisah.

Bila dirinci berdasarkan komoditas, segmen emas melalui PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp7,92 triliun pada tahun buku 2025. Capaian tersebut melonjak 106% dibandingkan laba tahun berjalan 2024 yang sebesar Rp3,85 triliun.

Pertumbuhan laba itu sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan yang naik 22% menjadi Rp84,64 triliun pada 2025, dibandingkan Rp69,19 triliun pada tahun sebelumnya. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh bisnis emas yang menyumbang sekitar 79% terhadap total penjualan perusahaan.

Dari komoditas batu bara, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) membukukan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun pada 2025, dengan pendapatan sebesar Rp42,65 triliun yang relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini berlangsung di tengah tekanan harga batu bara global yang masih berlanjut.

Di segmen timah, PT Timah Tbk. (TINS) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun atau mencapai 119% dari target RKAP 2025. Pendapatan TINS tercatat sebesar Rp11,55 triliun atau meningkat 6,41% dibandingkan Rp10,86 triliun pada 2024.

Dari hasil tambang nikel, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) turut mencatatkan pertumbuhan laba 32% ke angka US$76,1 juta di tahun 202. Pendapatannya pun naik menjadi US$990,19 juta.

Raihan ini sejalan dengan pernyataan Pelaksana Tugas Sementara (PJS) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik sebelumnya. Ia mengatakan fundamental pasar modal Indonesia saat ini berada dalam kondisi baik, tercermin dari kinerja keuangan perusahaan tercatat yang terus mencatatkan pertumbuhan laba.

Menurut Jeffrey, seluruh perusahaan tercatat di BEI membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21% pada akhir tahun buku 2025. Sementara itu, pada kuartal I-2026, emiten yang tergabung dalam kelompok LQ45 mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: BI Rate Naik 75 Bps Dalam Waktu Singkat, Bisa Redam Gejolak?