Mayoritas Bursa Asia di Zona Merah Pagi Ini

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Selasa, 09/06/2026 08:45 WIB
Foto: Bursa Tokyo (REUTERS/Issei Kato)

Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa (9/6/2026) seiring investor mencermati reli saham teknologi di Wall Street serta perkembangan terbaru konflik geopolitik di Timur Tengah.

Melansir CNBC, pelaku pasar juga menunggu sejumlah data ekonomi Amerika Serikat dan laporan keuangan emiten yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 dibuka menguat lebih dari 1% setelah sentimen positif dari saham semikonduktor global mendorong minat beli investor. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 4% dan berhasil memangkas sebagian kerugian tajam yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.


Berbeda dengan dua pasar tersebut, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 justru melemah 1,33% pada awal perdagangan. Di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng terakhir diperdagangkan di level 24.555, lebih rendah dibandingkan penutupan indeks sebelumnya di posisi 24.657,06.

Pergerakan pasar Asia mengikuti kinerja Wall Street yang ditutup bervariasi pada Senin waktu setempat. Indeks S&P 500 naik 0,3% dan Nasdaq Composite menguat 0,86% berkat reli saham-saham chip, sementara Dow Jones Industrial Average turun 80,77 poin atau 0,16%.

Namun demikian, kontrak berjangka saham AS bergerak cenderung datar pada perdagangan Senin malam. Futures S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun sekitar 0,1%, sedangkan futures Dow Jones melemah 44 poin atau sekitar 0,1%.

Reli saham kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor yang menjadi pendorong utama pasar dalam beberapa sesi terakhir juga mulai memunculkan keraguan di kalangan investor. Manajer portofolio GQG Partners Brian Kersmanc mempertanyakan keberlanjutan kenaikan sektor tersebut dalam jangka panjang mengingat banyak perusahaan chip pada dasarnya beroperasi di pasar komoditas.

Menurutnya, lonjakan harga yang terlalu cepat dapat menimbulkan risiko koreksi di masa mendatang. Kersmanc mencontohkan harga beberapa jenis memori semikonduktor yang sempat melonjak hingga 15 kali lipat dalam setahun terakhir, kondisi yang menurutnya sulit dipertahankan secara berkelanjutan.

Selain faktor teknologi, investor juga memantau perkembangan konflik di Timur Tengah. Gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran kembali dipertanyakan setelah muncul laporan serangan rudal dari Iran yang kemudian direspons Israel dengan serangan besar terhadap sistem pertahanan strategis.

Meski demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Israel dan Iran tengah mengupayakan gencatan senjata segera. Kementerian Luar Negeri Iran juga menyebut militernya telah menghentikan serangan terhadap Israel, namun memperingatkan bahwa aksi militer dapat kembali dilakukan apabila Israel melanjutkan serangan ke Lebanon.

Dari sisi ekonomi, investor akan menantikan data persediaan grosir Amerika Serikat periode April, penjualan rumah bekas Mei, serta indeks optimisme usaha kecil NFIB. Sejumlah emiten seperti United Natural Foods, J.M. Smucker, Designer Brands, dan Lands' End juga dijadwalkan merilis laporan keuangan sebelum pembukaan pasar Selasa waktu setempat.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah & IHSG Anjlok, Ini Instrumen Pilihan Manajer Investasi