MARKET DATA

Nikkei Anjlok 6% Dipukul Saham AI

mkh,  CNBC Indonesia
17 July 2026 12:08
papan saham elektronik yang menunjukkan kerugian awal indeks Nikkei 225 Jepang di sebuah perusahaan sekuritas, Kamis, 3/4/2025 di Tokyo..(AP Photo/Shuji Kajiyama)
Foto: AP/Shuji Kajiyama

Jakarta, CNBC Indonesia — Mayoritas bursa saham Asia ditutup melemah pada perdagangan Jumat (17/7/2026), dipimpin oleh Jepang. Aksi jual besar-besaran pada saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor, menyeret Nikkei 225 anjlok 6,11% atau 4.081,77 poin ke level 62.753,77.

Bursa Asia lainnya juga berada di zona merah, di antaranya Taiwan yang melemah 5,72%, Shenzhen turun 3,7%, Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,98%, dan Shanghai Composite turun 1,64%.

Tekanan di Jepang dipicu oleh gelombang risk-off yang menyapu pasar setelah Wall Street terkoreksi tajam sehari sebelumnya. Pada awal perdagangan, Nikkei bahkan sempat kehilangan lebih dari 2.200 poin dan menyentuh level terendah sejak 11 Juni.

Di Bursa Tokyo, jumlah saham yang turun mencapai 819 emiten, lebih banyak dibandingkan 694 saham yang naik. Aksi jual terutama terkonsentrasi pada saham-saham semikonduktor berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan terhadap pergerakan Nikkei.

Pemberat terbesar indeks adalah Advantest, produsen peralatan pengujian chip, yang memangkas sekitar 584 poin dari Nikkei. Selanjutnya disusul Tokyo Electron yang mengurangi sekitar 508 poin, SoftBank Group sekitar 380 poin, Kioxia Holdings sekitar 196 poin, serta Ibiden sekitar 93 poin.

Tekanan pada saham-saham tersebut mempertegas pelemahan sektor semikonduktor yang sudah terlihat sejak perdagangan sehari sebelumnya. Investor terus melepas saham-saham teknologi yang sebelumnya mencatat reli tinggi berkat euforia kecerdasan buatan (AI).

Meski demikian, tidak semua saham bergerak negatif. Fast Retailing, induk Uniqlo, menjadi penopang terbesar Nikkei dengan kontribusi positif sekitar 113 poin. Saham Konami Group, KDDI, Bandai Namco Holdings, dan Recruit Holdings juga menguat sehingga sedikit menahan penurunan indeks.

Berdasarkan sektor, 14 dari 33 kelompok industri di Bursa Tokyo berhasil menguat, dipimpin sektor pelayaran, ritel, produk lainnya, dan makanan. Sebaliknya, saham logam nonferrous, elektronik, dan produk logam mengalami tekanan paling besar, mencerminkan kuatnya aksi jual di sektor teknologi dan material.

Sentimen pasar memburuk seiring kekhawatiran investor terhadap potensi pengetatan aturan Amerika Serikat terhadap industri semikonduktor, ditambah meningkatnya kecemasan mengenai perlambatan ekonomi global.

Analis juga menilai koreksi tajam kali ini merupakan aksi ambil untung pada saham-saham semikonduktor yang telah melonjak sejak awal tahun berkat optimisme terhadap AI. Saham seperti Advantest dan Tokyo Electron menjadi sasaran utama karena valuasinya dinilai sudah sangat tinggi setelah reli panjang sepanjang tahun ini.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bursa Asia Menguat Mengekor Wall Street yang Pecah Rekor


Most Popular
Features