Nilai Tukar Rupiah Melemah, Dolar AS Sudah Tembus Rp 18.180
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berlanjut. Dolar kini nyaris menembus Rp18.200.
Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (8/6/2026) rupiah melemah 0,89% dengan nilai tukar US$1 kini telah mencapai Rp 18.180 dan menjadi rekor terendah baru mata uang Garuda.
Di pasar global, indeks dolar AS (DXY) sebenarnya terpantau melemah pada pagi ini. Per pukul 09.00 WIB, DXY turun 0,07% ke posisi 99,998. Namun, posisi tersebut masih tergolong tinggi setelah DXY menguat tajam 0,66% pada perdagangan terakhir pekan lalu hingga kembali menembus level 100.
Posisi indeks dolar AS yang masih tinggi membuat ruang penguatan mata uang Asia, termasuk rupiah, cenderung terbatas.
Dolar AS sebelumnya menguat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat periode Mei dirilis lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa langkah berikutnya dari bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) berpotensi berupa kenaikan suku bunga.
Selain itu, dolar AS juga masih mendapat dukungan dari permintaan aset aman atau safe haven. Hal ini terjadi karena Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan banyak kemajuan dalam pembicaraan mengenai kesepakatan damai sementara.
Di sisi lain, Konflik antara Israel dan milisi Hizbullah masih berlanjut di Lebanon. Iran disebut tetap menuntut gencatan senjata di Lebanon sebelum menerima kesepakatan dari AS untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz.
Dari dalam negeri, BI sebelumnya melaporkan cadangan devisa Indonesia turun US$ 1,3 miliar menjadi US$ 144,9 miliar pada Mei 2026
Ini dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan valuta asing musiman dari domestik.
Secara keseluruhan, posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tetap kuat, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Selanjutnya, perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan antara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Bank Indonesia (BI), dan pemerintah di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, pada Sabtu (6/6/2026) akhir pekan lalu.
Konsolidasi yang diinisiasi Wakil Ketua DPR dari Fraksi Gerakan Indonesia Raya Sufmi Dasco Ahmad tersebut bertujuan menunjukkan sinergi fiskal dan moneter yang semakin erat di tengah tekanan terhadap rupiah.
"Pada hari ini DPR sengaja berkumpul dengan teman-teman dari lembaga otoritas moneter maupun kebijakan fiskal serta dari pihak pemerintah untuk mengadakan evaluasi mengenai perkembangan ekonomi," ujar Dasco dalam konferensi pers saat itu.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pertemuan tersebut dapat memberikan sentimen positif bagi pergerakan rupiah, meskipun dampaknya lebih bersifat menahan tekanan ketimbang langsung membalikkan arah secara kuat.
"Menurut saya, pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur BI di DPR dapat memberi pengaruh positif terhadap pergerakan rupiah pada Senin 8 Juni 2026, tetapi pengaruhnya kemungkinan lebih bersifat menahan tekanan, bukan langsung membalikkan arah secara kuat," kata Josua kepada CNBC Indonesia.
Menurut Josua, komitmen untuk memperkuat koordinasi, menjaga daya tarik imbal hasil aset rupiah, dan memastikan ketersediaan likuiditas dapat membantu meredakan kekhawatiran jangka pendek.
"Namun, penguatan rupiah tetap sangat bergantung pada apakah komitmen tersebut segera diikuti langkah nyata, bukan hanya pernyataan bersama," tegasnya.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]