MARKET DATA

Sudah Tutup Pabrik & Ratusan Toko, BATA Masih Boncos Rp116 Miliar

mkh,  CNBC Indonesia
08 June 2026 09:20
Suasana lengang Toko sepatu Bata di Pasar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2024), tetap beroperasi pascapenutupan pabrik sepatunya di Purwakarta, Jawa Barat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Suasana lengang Toko sepatu Bata di Pasar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2024), tetap beroperasi pascapenutupan pabrik sepatunya di Purwakarta, Jawa Barat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — PT Sepatu Bata Tbk (BATA) masih berjibaku keluar dari tekanan bisnis yang membuat perusahaan mencatat rugi besar dua tahun beruntun.

Perseroan sebelumnya telah melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan menutup lebih dari 200 gerai yang merugi, menghentikan operasional pabrik dan gudang Purwakarta, serta melakukan pembersihan persediaan melalui diskon besar dan penjualan stok lama. Total biaya restrukturisasi yang dicatat perusahaan pada 2024 mencapai Rp124,08 miliar. Meski demikian, hasilnya belum sepenuhnya terlihat di kinerja keuangan 2025.

Sepanjang 2025, BATA membukukan penjualan neto sebesar Rp298,25 miliar, turun 35,2% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp459,98 miliar. Seiring penurunan tersebut, laba bruto perusahaan juga turun menjadi Rp105,45 miliar dari sebelumnya Rp197,15 miliar.

Dari sisi profitabilitas, perseroan masih membukukan rugi usaha sebesar Rp106,34 miliar, meski membaik dibanding rugi usaha Rp145,05 miliar pada 2024. Adapun rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp116,23 miliar, lebih rendah dibanding rugi Rp147,97 miliar pada tahun sebelumnya.

Tekanan keuangan juga tercermin dari posisi neraca perusahaan. Total aset BATA turun menjadi Rp282,56 miliar pada akhir 2025 dari Rp405,66 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara itu, perusahaan mencatat defisiensi modal sebesar Rp131,65 miliar, memburuk dibanding posisi negatif Rp15,93 miliar pada akhir 2024.

Dari sisi likuiditas, total liabilitas jangka pendek BATA mencapai Rp382,24 miliar, jauh lebih tinggi dibanding aset lancarnya sebesar Rp184,35 miliar. Kondisi ini membuat auditor menyoroti adanya ketidakpastian material terkait kemampuan perusahaan mempertahankan kelangsungan usahanya (going concern).

Meski demikian, arus kas operasi menunjukkan perbaikan. BATA membukukan arus kas operasi positif sebesar Rp37,57 miliar pada 2025, naik dibanding Rp16,08 miliar pada tahun sebelumnya. Namun, posisi kas akhir tahun tetap turun menjadi Rp29,88 miliar dari sebelumnya Rp53,62 miliar.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Krakatau Steel (KRAS) Cetak Laba Rp 5,68 T, Akumulasi Rugi Turun 12,6%


Most Popular
Features