Satu per Satu Bank di RI "Hilang" Kini Sisa 105, Ini Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Lanskap industri perbankan di tanah air menunjukkan tren penyusutan yang masif sepanjang tiga dekade belakangan. Data mencatat agregat bank umum yang beroperasi menyusut tajam, dari kisaran 240 lembaga pada tahun 1995 menjadi hanya tersisa 105 entitas per tahun 2026.
Dalam RDPUÂ dengan Komisi XI, Jakarta, Selasa, (2/6/2026), Wakil Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Nixon LP Napitupulu memaparkan, penurunan kuantitas ini terjadi akibat bergulirnya proses konsolidasi secara organik yang didorong oleh dinamika mekanisme pasar.
"Konsolidasi itu sudah terjadi kalau kita tarik dari 1995, 30 tahun lalu hari ini dari 240 bank ke 105 bank," ujar Nixon, dikutip Sabtu (6/6/2026).
Menurut Nixon, krisis moneter 1998 menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat konsolidasi sektor perbankan nasional. Dampaknya, jumlah bank turun drastis dibandingkan sebelum krisis, meski proses konsolidasi dinilai masih belum sepenuhnya selesai.
Di sisi lain, struktur industri perbankan saat ini masih didominasi oleh kelompok bank besar. Berdasarkan data yang dipaparkan, kelompok Bank KBMI 4 menguasai 52,88% total aset industri perbankan, sementara KBMI 3 memiliki porsi 25,80%, KBMI 1 sebesar 13,45%, dan KBMI 2 sebesar 7,88%.
Konsentrasi aset tersebut menunjukkan bahwa industri perbankan Indonesia bertumpu pada sekitar 12 hingga 20 bank terbesar. Sementara itu, masih terdapat sekitar 57 bank KBMI 1 dengan modal inti Rp3 triliun hingga Rp5 triliun yang menjadi bagian dari lanskap perbankan nasional.
Meski demikian, ia menegaskan bank-bank kecil tetap memiliki peran penting dalam melayani segmen pasar tertentu atau niche market yang belum tentu dapat dijangkau bank-bank besar. Namun, penguatan skala usaha dan permodalan tetap diperlukan agar bank-bank tersebut mampu berinvestasi pada teknologi dan meningkatkan daya saing.
Dari sisi ukuran industri, total aset bank umum tercatat mencapai Rp13.900 triliun dengan penyaluran kredit sebesar Rp8.768 triliun. Angka tersebut jauh melampaui industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPRS yang memiliki total aset Rp210,7 triliun serta kredit Rp155,9 triliun.
Meski jumlah bank umum hanya 105 entitas, jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan 1.463 BPR dan BPRS yang beroperasi di seluruh Indonesia.
OJK Dorong Konsolidasi dan Peluang Merger Bank Mini
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mendorong bank-bank kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) I alias bermodal inti Rp3 triliun hingga Rp6 triliun, untuk naik kelas. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae memandang penguatan bank-bank KBMI I sebagai bagian dari agenda strategis yang perlu ditempuh secara terarah dan prudent, dalam rangka memperkuat struktur dan ketahanan perbankan nasional serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Langkah ini dipandang penting terutama mempertimbangkan dinamika perkembangan teknologi informasi, akselerasi digitalisasi perbankan, ketidakpastian kondisi ekonomi global, serta meningkatnya risiko serangan siber. "Sehubungan dengan hal tersebut, OJK memandang perlu mendorong pertumbuhan bank yang sustainable," kata Dian dalam keterangannya, dikutip Senin (18/5/2026).
OJK menilai bank-bank KBMI I masih memiliki ruang untuk memperkuat permodalan dan meningkatkan skala usaha melalui langkah penguatan baik secara organik maupun anorganik. Dian mengatakan pihaknya telah menyampaikan imbauan untuk penguatan fundamental dan konsolidasi kepada bank-bank mini pada akhir bulan Oktober 2025 lalu.
OJK kemudian mengimbau setiap bank KBMI I untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan berkelanjutan atas kinerja bisnis, permodalan, kualitas aset, tata kelola, model bisnis, dan prospek jangka panjang, termasuk mengidentifikasi opsi penguatan modal dan peluang konsolidasi yang sesuai karakteristik masing-masing bank. Bahkan, Dian menyebut aksi merger dapat ditempuh oleh bank-bank mini yang kinerjanya tidak bertumbuh. Akan tetapi, ia menyebut hal itu membutuhkan pandangan visioner dari pemegang saham pengendali (PSP).
"Pendekatan anorganik melalui konsolidasi diperlukan untuk dapat menjadi dorongan terhadap kinerja bank yang dinilai mengalami stagnasi. Hal ini tentu membutuhkan kejujuran dan sikap visioner dari PSP dan manajemen bank untuk melihat prospek kinerjanya kedepan dalam posisi permodalan dan kinerjanya saat ini," tutur Dian.
Selain itu, sejak Desember 2025, OJK telah mengundang bank-bank KBMI I untuk melakukan focus group discussion (FGD) dalam rangka menyusun roadmap. Tetapi Dian kemudian menekankan bahwa penguatan fundamental dan konsolidasi bank-bank KBMI I yang saat ini bersifat imbauan akan dievaluasi secara berkala untuk melihat tingkat keberhasilan.
Pada saat yang bersamaan pula, OJK sedang menyiapkan kerangka kebijakan dan mekanisme yang paling tepat agar penguatan permodalan bank-bank KBMI 1 dapat berlangsung secara prudent, terukur, dan berkelanjutan. Dian menyebut penyiapan kebijakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan stabilitas sistem keuangan, perlindungan nasabah, serta kesinambungan fungsi intermediasi, sehingga pelaksanaannya tidak dilakukan secara tergesa-gesa dan tetap sejalan dengan kapasitas masing-masing bank.
Respons Bank
PT Bank Ganesha Tbk. (BGTG) buka suara mengenai imbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada bank kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) I alias untuk naik kelas. Seperti diketahui, KBMI adalah kategori bagi bank yang bermodal inti Rp3 triliun hingga Rp6 triliun, dan Bank Ganesha merupakan salah satunya. Komisaris Bank Ganesha, Lisawati enggan untuk berbicara banyak mengenai hal itu, namun menyatakan pihaknya pasti memenuhi ketentuan regulator. Ia menyerahkan rencana realisasi untuk naik kelas itu kepada direktur utama atau CEO bank itu.
"Pokoknya kita ngikutin ketentuan OJK," kata Lisawati singkat saat ditemui di Perbanas Institute, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, tidak ada target kapan Bank Ganesha dapat naik kelas ke KBMI II. Lisawati kembali menekankan bahwa pihaknya pasti akan memenuhi ketentuan regulator. "Jelas lah, pasti. Ketentuannya pasti diikutin. Tapi yang jawab baru CEO-nya. Jangan saya," tutur Lisawati sambil tertawa.
Adapun, berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, modal inti Bank Ganesha tercatat sebesar Rp3,64 triliun.
Sementara itu, Bank Ganesha baru-baru ini telah melakukan perombakan pengurus. Antara lain, mengangkat Trisna Chandra dan Shirley sebagai direktur, serta Faisal Dharma Setiawan selaku komisaris independen Bank Ganesha. Hal ini ditetapkan dalam pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Selasa (26/5/2026) lalu.
Rapat tersebut juga menetapkan absen dalam pembagian dividen tahun ini serta perombakan pengurus. Dalam rapat tersebut, para pemegang saham memutuskan laba bersih yang diperoleh Bank Ganesha pada tahun buku 2025 sebesar Rp227,09 miliar, akan dipakai sebesar Rp1 miliar untuk dana cadangan wajib/umum. Sisanya disimpan sebagai laba ditahan untuk memperkuat pemodalan perseroan.
source on Google [Gambas:Video CNBC]