Bursa Asia Dibuka di Zona Merah, Kospi Korea Anjlok 4,11%

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Jumat, 05/06/2026 08:50 WIB
Foto: via REUTERS/Yonhap News Agency

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026), dengan pasar Korea Selatan memimpin penurunan di kawasan.

Melansir CNBC, sentimen negatif datang setelah saham-saham teknologi di Wall Street terkoreksi pada perdagangan semalam, memicu aksi jual di sektor teknologi Asia.


Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 4,11%, dengan saham-saham berkapitalisasi besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing merosot sekitar 6% dan 8%. Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga turun 2,41%.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 terkoreksi 1,1% mengikuti pelemahan sektor teknologi global. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,2% pada awal perdagangan.

Prospek pasar Hong Kong juga cenderung negatif. Kontrak berjangka indeks Hang Seng terakhir diperdagangkan di level 25.158, lebih rendah dibandingkan penutupan indeks Hang Seng pada Kamis yang berada di posisi 25.253,40.

Pelemahan pasar Asia terjadi setelah pergerakan beragam di Wall Street pada perdagangan Kamis waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average justru mencetak rekor tertinggi baru setelah melonjak 874,86 poin atau 1,73% ke level 51.561,93.

Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,09% dan ditutup di level 26.830,96. Sementara itu, indeks S&P 500 masih mampu menguat 0,41% ke posisi 7.584,31.

Rotasi investasi dari saham teknologi ke sektor non-teknologi menjadi pemicu utama pelemahan Nasdaq. Aksi jual dipimpin oleh saham Broadcom yang ambles lebih dari 12% setelah pendapatan kuartal fiskal keduanya gagal memenuhi ekspektasi pasar.

Koreksi Broadcom memicu investor mengurangi eksposur terhadap saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI). ETF semikonduktor VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun lebih dari 1%, sementara Arm Holdings melemah lebih dari 4% dan Micron Technology jatuh hampir 8%.

Selain tekanan dari sektor teknologi, pasar saham global juga dibayangi kekhawatiran terkait konflik di Timur Tengah. Beragam sinyal dari negosiasi untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut telah mengguncang pasar keuangan global sekaligus mendorong kenaikan harga minyak dan bensin, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi dunia.

 


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Dekati Level Rp 18.000 per USD & IHSG Terus Melemah