IHSG Rontok, Influencer Saham Ini Boncos Rp1,7 Miliar dalam Sehari

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Kamis, 04/06/2026 08:00 WIB
Foto: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali anjlok signifikan pada perdagangan hari ini, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok dalam pada perdagangan kemarin, Rabu (3/6/2026). Kapitalisasi pasar menguap sekitar Rp 440 triliun dalam tujuh jam perdagangan. 

Investor ritel pun banyak yang mengalami kerugian besar, termasuk influencer saham. Salah satu influencer saham sekaligus CEO Komunitas Saham PPC, @ombentrader, mengunggah kondisi portofolionya pada perdagangan kemarin.

Dalam unggahannya, terlihat kerugian belum terealisasi (floating loss) mencapai Rp1,73 miliar. "Ini porto yang ada barang floating lossnya segini. Allocate estimasi 30% dari overall," ungkap Om Ben di Instagram, dikutip Rabu (3/6/2026).


Meski mencatat potensi kerugian miliaran rupiah, pria dengan lebih dari 165.000 pengikut di Instagram itu mengaku masih mempertahankan posisinya dan belum melakukan cut loss.

"Kalo nanya kenapa keep? ya aslinya bandel awalnya. Cuma ya sudah masih bisa saya ukur risikonya," jelasnya.

Sebagaimana diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memangkas sebagian koreksinya, tetapi masih ditutup ambruk pada akhir perdagangan Rabu (3/6/2026).

IHSG ditutup melemah 4,11% atau turun 254,36 poin ke level 5.941,07. Sebanyak 726 saham atau sekitar 75% emiten berada di zona merah. Sementara itu, hanya 75 saham menguat dan 158 saham stagnan.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp24,96 triliun dengan volume perdagangan 35,83 miliar saham yang ditransaksikan sebanyak 2,71 juta kali. Kapitalisasi pasar pun turun menjadi Rp10.455 triliun.

Sementara itu, aktor yang kini menjadi pelaku investasi, Adrian Maulana mengunggah deretan saham big caps yang mengalami tekanan jual pada perdagangan kemarin. 

"3 Juni 2026. Badai belum reda," tulisnya. 

Sebagaimana diketahui,IHSG memang mengalami tekanan besar sepanjang tahun berjalan. Penurunan dari titik puncak pada tanggal 20 Januari 2026 hingga posisi terendah saat ini merefleksikan tingkat koreksi ekstrim yang mencapai 34,96% hanya dalam rentang waktu perdagangan kurang dari enam bulan.

Pelemahan indeks yang begitu agresif ini berdampak sistemik terhadap valuasi agregat seluruh emiten di Bursa Efek Indonesia. Total kapitalisasi pasar tercatat mengalami penyusutan drastis dari sebelumnya berada di angka Rp16.632 triliun pada masa puncaknya pada 19 Januari 2026, kini merosot jatuh ke level Rp10.770 triliun pada hari ini.

Kinerja tersebut menempatkan IHSG sebagai indeks terburuk di dunia. Indeks terburuk kedua India yakni (SENSEX) bahkan hanya melemah 12% sepanjang 2026.

Meskipun pelemahan saat ini tergolong sebagai siklus ekstrem, kejatuhan indeks dengan magnitudo dan kecepatan serupa pernah terjadi beberapa kali dalam sejarah bursa domestik.

Salah satu krisis paling mendalam tercatat pada masa awal pandemi COVID-19 di mana indeks menukik tajam 37,79% dari level 6.329,31 pada 27 Desember 2019 menuju 3.937,63 pada 24 Maret 2020.

Jauh sebelumnya, krisis finansial global memicu anjloknya indeks hingga 59,68% dari posisi 2.756,31 pada 28 Februari 2008 menjadi 1.111,39 pada 28 Oktober 2008.

Siklus koreksi yang agresif juga mewarnai dekade sebelumnya. Pada tahun 2002, indeks mengalami pelemahan 38,82% dari 551,61 pada pertengahan April menuju 337,48 di pertengahan Oktober.

Memasuki era milenium, pasar merekam penurunan sebesar 36,82% dari level 703,48 pada 17 Januari 2000 menuju 444,45 pada 2 Juni 2000. Catatan kelam lainnya terlihat saat krisis moneter Asia menggerus indeks sebesar 54,17% dari 740,83 pada awal Juli 1997 ke level 339,53 pada Desember 1997.

Bahkan, dinamika awal pasar modal juga mencatat penurunan sebesar 47,24% dari 423,15 pada 28 April 1991 menjadi 223,25 pada 11 November 1991.

Rangkaian rekam jejak ini membuktikan bahwa bursa saham memiliki probabilitas historis untuk mengalami koreksi dengan kedalaman melebihi 35% dalam waktu singkat apabila dihadapkan pada akumulasi sentimen negatif yang ekstrem.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Dekati Level Rp 18.000 per USD & IHSG Terus Melemah