MARKET DATA

Rupiah Pecah Rekor Terburuk, Kenaikan BI Rate Tak Manjur?

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
03 June 2026 13:10
Pengunjung menukar uang di tempat penukaran uang di Money Changer Ayu Masagung kawasan Kwitang, Jakarta, Rabu, (3/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. (CNBC Indonesia/Muh
Foto: Pengunjung menukar uang di tempat penukaran uang di Money Changer Ayu Masagung kawasan Kwitang, Jakarta, Rabu, (3/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah ekonom menilai pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh faktor global yang diperparah dengan faktor internal dari Tanah Air, yakni tertekannya kinerja perdagangan Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus perdagangan April 2026 hanya sekitar US$ 90 juta, turun tajam dari US$ 3,32 miliar pada Maret, sementara secara kumulatif surplus Januari-April 2026 turun dari US$ 11,07 miliar menjadi US$ 5,64 miliar.

Menurut data Refinitiv, pada penutupan perdagangan sesi I pukul 12.00 WIB, Rp 17.925/US$. Ini adalah level terburuk rupiah sepanjang masa terhadap greenback. Pelemahan ini memicu pertanyaan, apakah kenaikan BI Rate, suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) dalam menjaga kurs rupiah, belum maksimal?

Ekonom UOB Kay Hian Surya Wijaksana mengatakan kebijakan BI Rate belum berpengaruh karena permasalahannya berada pada kepercayaan pasar mengenai kondisi fiskal Indonesia. Pasar melihat BI Rate naik, seharusnya imbal hasil SBN juga naik. Namun, kondisinya justru sebaliknya. BI Rate naik, tetapi imbal hasilnya tidak naik.

"Belum karena memang masalah confidence & fiskal ini dan BI Rate naik tapi yield SBN ga naik. Kan ga logis," paparnya.

"Iya kalau policy rate naik harusnya yield SBN juga naik, tapi ini tidak naik. Berarti market nya kan gak credible," tambahnya.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan kenaikan BI Rate dan intervensi BI tetap penting, tetapi tidak bisa sendirian menguatkan rupiah. BI sudah memperkuat strategi stabilisasi melalui intervensi spot, DNDF, NDF luar negeri, penguatan SRBI, pembelian SBN di pasar sekunder, pembatasan pembelian valas tanpa transaksi dasar, serta pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan pembelian dolar yang tinggi.

Langkah ini, menurutnya, membantu menahan volatilitas, tetapi efektivitasnya akan terbatas jika pasokan devisa riil dari ekspor, Devisa Hasil Ekspor (DHE), investasi, dan arus portofolio belum membaik. Dengan kata lain, BI bisa meredam gejolak, tetapi rupiah akan lebih kuat secara berkelanjutan jika didukung perbaikan neraca eksternal dan kredibilitas fiskal.

"Saya juga melihat rupiah pada level sekitar Rp17.900 sudah semakin jauh dari nilai wajarnya secara fundamental. Model REER (Real Effective Exchange Rate atau Nilai Tukar Efektif Riil) menunjukkan nilai wajar rupiah di bawah level Rp17.000 per dolar, sementara data April menunjukkan REER rupiah turun ke 91,44, yang mengindikasikan rupiah makin murah secara nilai riil," paparnya.

Namun, dia menilai posisi undervalued rupiah tidak berarti otomatis menguat cepat. Mata uang bisa tetap murah dalam waktu cukup lama jika sentimen risiko masih buruk dan pasar belum yakin terhadap arah kebijakan.

"Jadi, argumen rupiah murah hanya menjadi alasan untuk potensi pemulihan, bukan jaminan pemulihan segera," tegas Josua.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ekonom Bilang Rupiah Bisa Balik Menguat Lawan Dolar, Ini 3 Syaratnya!


Most Popular
Features