MARKET DATA

SRBI Disorot! Himbara Sebut Cuma Punya Rp80 T, Kredit Tetap Kencang

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
03 June 2026 13:00
RDPU Panja P2SK di DPR dengan Himbara, Perbanas, Asbanda, Asbisindo, dan Perbarindo, Selasa (2/6/2026). (Tangkapan layar Youtube TV Parlemen)
Foto: RDPU Panja P2SK di DPR dengan Himbara, Perbanas, Asbanda, Asbisindo, dan Perbarindo, Selasa (2/6/2026). (Tangkapan layar Youtube TV Parlemen)

Jakarta, CNBC Indonesia — Ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Putrama Wahju Setyawan menyampaikan bahwa porsi penempatan dana bank-bank pelat merah di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) amat kecil.

Putrama mengungkapkan fungsi intermediasi berjalan optimal, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) mencapai 90% hingga Maret 2026. Di periode yang sama, pertumbuhan kredit himbara rata-rata ada mencapai double digit.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) itu memaparkan kredit pihaknya tumbuh di 24%, diikuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) 17% dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) 12%, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) tumbuh di kisaran 12%. Sementara itu, kredit industri perbankan nasional hanya tumbuh di 9% per Maret 2026.

Putrama melanjutkan, outstanding SRBI pada Maret 2026 itu kurang lebih sebesar Rp922 triliun. Dari jumlah itu total porsi Himbara kurang lebih sebesar Rp80 triliun.

"Jadi angka Himbara menempatkan dana yang di SRBI sangat kecil, hanya kira-kira Rp80 triliun versus total outstanding SRBI Rp922 triliun," kata Putrama dalam Rapat Dengar Pendapat Umum di Komisi XI DPR RI, Selasa (2/6/2026).

Adapun Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) meminta adanya pengaturan bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Wakil Ketua Perbanas, Nixon L.P. Napitupulu menyebut penyaluran kredit bank "bersaing" dengan dua instrumen.

Nixon menjelaskan penyaluran kredit perbankan nasional sejauh ini tetap bertumbuh, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) industri yang meningkat. Namun, fungsi intermediasi perbankan juga menghadapi tantangan dari SRBI dan SBN yang menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi ke dengan tingkat risiko rendah.

"Memang kadang-kadang ada instrumen lawan kita yang lebih menarik, kompetisi kita juga kadang-kadang sama SRBI dan SBN. Kita lihat juga kalau risk-free, bunganya bagus, sementara ke perusahaan bagus juga sudah single digit, jadi kompetitor juga," ujar Nixon.

Maka demikian, ia menyarankan agar ada semacam pengatur suku bunga untuk para penerbit surat utang. Sebab, menurut Nixon, bank sulit berkompetisi dengan negara.

"Kalau lawan kita negara kan susah juga, dia risk-free gitu ya. Sehingga menurut saya harus ada patokan bunga yang pas di SRBI, SBN sehingga enggak jadi kanibal terhadap kredit juga," tutur Nixon.

Sekadar informasi, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada April 2026 mencapai 9,98% secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan kinerja intermediasi ini terutama ditopang oleh tingginya penyaluran pada sektor kredit investasi.

(mkh/mkh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article OJK Buka-Bukaan, Bunga Kredit Bank Ternyata Sudah Turun Segini


Most Popular
Features