MARKET DATA

Breaking News! Dolar Sentuh Rp 17.900, IHSG Anjlok 3,03%

ayh,  CNBC Indonesia
03 June 2026 10:32
Ilustrasi orang berdoa dengan latar belakang Bursa Saham Indonesia di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Ilustrasi orang berdoa dengan latar belakang Bursa Saham Indonesia di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,03% ke level 6.008,69 pada perdagangan pagi hari ini, Rabu (3/6/2026). Sebanyak 633 saham melemah, 93 saham menguat dan 233 saham stagnan.

Frekuensi transaksi terjadi sebanyak 1,075 juta kali, dengan volume perdagangan mencapai 12,77 miliar lembar saham senilai Rp8,80 triliun.

Pada awal perdagangan, IHSG melesat 11,67 poin atau 0,19% ke posisi 6.207.

Nilai transaksi di awal perdagangan tercatat sebesar Rp 256 miliar dengan volume 241 juta saham dan frekuensi 33 ribu kali transaksi. Sebanyak 229 saham tercatat menguat, 74 melemah, dan 309 bergerak stagnan.

Akan tetapi beberapa menit setelah pasar aktif, IHSG malah berbalik arah dan turun tajam tajam hingga terkoreksi 0,92% ke level 6.136. Saham-saham konglomerat tercatat masih menjadi yang paling ramai ditransaksikan hari ini.

Sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri akan membayangi IHSG dan rupiah. Setelah sama-sama menguat pada perdagangan Selasa kemarin, pasar keuangan Indonesia kembali diuji pada hari ini.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, Selasa (2/6/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 50,0 pada Mei 2026. Angka ini merupakan perbaikan setelah PMI mencatat kontraksi pada April 2026 (49,1).

Kenaikan tersebut didorong oleh membaiknya permintaan domestik. Pesanan baru tumbuh untuk bulan kedua berturut-turut dengan laju tercepat sejak Februari.

Namun, kinerja pasar ekspor masih menjadi titik lemah. Pesanan dari luar negeri turun untuk bulan ketiga beruntun dan mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021, seiring berlanjutnya gangguan perdagangan akibat konflik di Timur Tengah.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 surplus US$ 90 juta. Surplus ini menyusut dibanding catatan pada Maret 2026 yang senilai US$ 3,32 miliar.

Kondisi surplus itu disebabkan nilai ekspor sebesar US$ 25,30 miliar, sedangkan impor US$ 25,21 miliar. Sebagai catatan ini adalah surplus dalam 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Lalu Badan Pusat Statistik (BPS) juga melaporkan inflasi pada Mei 2026 sebesar 0,28% secara bulanan atau month to month (mtm). Adapun, inflasi tahun kalender mencapai 1,35% dan inflasi tahunannya mencapai 3,08%.

Tekanan inflasi yang tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan itu tercatat lebih tinggi dibanding kondisi April 2026 yang mengalami inflasi 0,13% mtm.

Sentimen utama lainnya adalah terkait jumlah kapasitas pembiayaan yang telah disetujui perbankan namun belum dicairkan kepada dunia usaha (undisbursed loan) alias kredit nganggur mencapai Rp2.527 triliun per Maret 2026. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa sebagian pelaku usaha masih menahan ekspansinya.

Pagi ini nilai tukar rupiah terus melemah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh angka Rp 17.900.

(ayh/ayh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking News! IHSG Anjlok 1% ke 8.236


Most Popular
Features