Perang Iran-AS Tak Kunjung Usai, Harga Minyak Naik Lagi ke US$94

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Rabu, 03/06/2026 10:30 WIB
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (3/6/2026) pagi. Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.30 WIB, kontrak Brent naik 0,85% ke US$96,82 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,96% ke US$94,66 per barel.

Kenaikan ini memperpanjang reli yang sudah berlangsung sejak awal pekan. Brent kini telah melesat hampir 5,8% dibandingkan penutupan akhir Mei, sedangkan WTI menguat lebih dari 8,4%. Dalam dua pekan terakhir, harga minyak memang bergerak sangat volatil.

Pada 22 Mei, Brent sempat menyentuh US$103,54 per barel sebelum terkoreksi tajam ke area US$92 pada akhir Mei. Namun sejak awal Juni, arah pergerakan kembali berbalik naik.


Pendorong utamanya masih sama terkait ketidakpastian perang Iran yang memasuki bulan keempat. Pasar kembali dikejutkan oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia setelah militer Amerika Serikat menyatakan berhasil menggagalkan sejumlah serangan rudal Iran yang diarahkan ke Bahrain, Kuwait, dan beberapa target regional lainnya. Washington juga mengaku menembak jatuh drone Iran yang menyasar kapal sipil dan pasukan AS di Kuwait, serta melancarkan serangan ke Pulau Qeshm yang berada di dekat Selat Hormuz.

Situasi tersebut mempertegas bahwa gencatan senjata yang diumumkan beberapa waktu lalu masih jauh dari stabil. Meski Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menyatakan telah mencapai kesepakatan awal untuk menghentikan perang, hingga kini belum ada penandatanganan resmi. Media Iran bahkan melaporkan komunikasi antara Teheran dan Washington sempat terhenti selama beberapa hari terakhir. Di sisi lain, Presiden Donald Trump menegaskan negosiasi masih terus berlangsung.

Fokus pasar energi saat ini tertuju pada Selat Hormuz. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut merupakan salah satu urat nadi energi dunia. Sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG global melewati kawasan itu. Gangguan lalu lintas kapal yang masih terjadi membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi meskipun pasokan fisik global belum mengalami gangguan besar.

Ancaman terhadap pelayaran juga terus bertambah. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim menyerang sejumlah target yang berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat di kawasan. Kelompok tersebut turut memperingatkan bahwa keamanan Selat Hormuz akan menjadi alat tekanan selama konflik belum menemukan jalan keluar. Pekan ini, perusahaan pelayaran terbesar dunia MSC melaporkan salah satu kapalnya terkena dua proyektil saat berada di pelabuhan Umm Qasr, Irak.

Di saat yang sama, pembicaraan mengenai program nuklir Iran masih menemui jalan buntu. Pemerintah AS menegaskan pelonggaran sanksi hanya akan diberikan jika Iran menghentikan aktivitas nuklirnya. Sebaliknya, Teheran menginginkan akses kembali terhadap pendapatan minyak yang selama ini terhambat sanksi, pelonggaran ekspor minyak mentah, pembukaan blokade pelabuhan, serta pengaruh yang tetap besar atas Selat Hormuz.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kesulitan memperkirakan kapan premi risiko perang akan menghilang dari harga minyak. Selama ketegangan militer masih muncul secara sporadis dan jalur energi utama dunia belum sepenuhnya normal, pasar cenderung mempertahankan posisi beli. Itu sebabnya, meskipun perang telah berlangsung lebih dari tiga bulan dan tidak lagi menghasilkan lonjakan harga setajam awal konflik, minyak masih bertahan di kisaran mendekati US$100 per barel.

CNBC Indonesia


(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: FTSE Russel Hapus 4 Saham RI - Rupiah Melemah ke Rp 17.720/USD