MARKET DATA

Dolar Tembus Rp 17.800, Pengusaha Kini Makin Terancam!

haa,  CNBC Indonesia
29 May 2026 10:05
Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah masih terdepresiasi pada hari pertama perdagangan setelah libur Idul Adha pada 27-28 Mei 2026. Rupiah dibuka di posisi Rp17.800/US$ atau terdepresiasi 0,14%.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau bergerak stabil. Per pukul 09.00 WIB, DXY berada di kisaran 98,974, setelah ditutup melemah 0,19% pada perdagangan sebelumnya.

Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, berpendapat bahwa rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting, di mana pelemahannya sudah bergerak lebih dalam dibanding yang dijustifikasi oleh fundamental jangka panjang Indonesia.

Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar cerita tentang fundamental ekonomi yang buruk, tetapi lebih kepada bagaimana pasar melihat kombinasi tekanan global, arah kebijakan domestik, dan ketidakjelasan proses penyesuaian ekonomi.

"Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respon, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (29/2/2026).

Fakhrul menilai bahwa rupiah saat ini seperti menjadi titik penyesuaian utama dari berbagai tekanan yang sebenarnya seharusnya tersebar ke banyak sektor ekonomi lain.

Menurut Fakhrul, saat ini terlalu banyak tekanan ekonomi yang akhirnya ditanggung oleh nilai tukar. Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, ketika harga energi global naik, maka sebagian tekanan muncul di inflasi, sebagian di fiskal, sebagian di harga domestik, dan sebagian di nilai tukar.

Namun saat adjustment domestik dibuat sangat hati-hati demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli, maka tekanan akhirnya berpindah terlalu besar ke rupiah.

"Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs," jelasnya.

Menurutnya, inilah alasan mengapa pelemahan rupiah saat ini terlihat jauh lebih besar dibanding beberapa indikator ekonomi lainnya.

Dampak ke Sektor Riil

Fakhrul berpendapat bahwa tekanan terhadap sektor riil saat ini mulai menjadi isu yang sangat serius karena dunia usaha menghadapi tekanan ganda secara bersamaan.

Di satu sisi, pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku, energi, mesin, dan logistik. Di sisi lain, kenaikan suku bunga dan tingginya yield membuat biaya pembiayaan ikut naik.

Menurutnya, kombinasi ini sangat berat terutama bagi industri manufaktur, properti, konstruksi, retail, dan sektor yang memiliki leverage tinggi.

"Kalau kondisi seperti ini terlalu lama, maka perusahaan tidak hanya menghadapi tekanan margin, tetapi juga mulai menahan ekspansi, mengurangi investasi, dan lebih defensif terhadap perekrutan tenaga kerja," ujarnya.

Dia pun menyarankan dunia usaha untuk lebih fokus pada ketahanan operasional dibanding ekspansi agresif jangka pendek.

Menurutnya, perusahaan perlu menjaga likuiditas, mengelola risiko valas, memperkuat efisiensi, dan menghindari leverage berlebihan.

Namun demikian, ia juga melihat bahwa fase overshooting biasanya membuka peluang besar bagi perusahaan dengan neraca sehat.

"Setiap fase overshooting biasanya juga menciptakan peluang akumulasi aset bagi pelaku usaha yang siap," ujarnya.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Dolar Rp17.100 Tak Berarti RI Balik ke Krisis 98, Ini Alasannya


Most Popular
Features