3 Saham Masuk Radar Pengawasan Bursa, Ada Emiten Happy Hapsoro
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) memantau ketat pola pergerakan Unusual Market Activity (UMA) atas tiga mulai Selasa, (26/5/2026). Emiten tersebut dipantau karena terjadi kenaikan harga saham yang tidak wajar.
Ketiga saham tersebut adalah PT Mahkota Group Tbk. (MGRO), PT Perdana Gapuraprima Tbk. (GPRA) dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA).
Mengutip keterbukaan informasi BEI, saham tersebut bergerak di luar kebiasaan (Unusual Market Activity). Langkah tersebut dilakukan untuk melindungi investor, khususnya pemegang saham ketiga emiten tersebut.
"Pengumuman Unusual Market Activity (UMA) tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal," tulis manajemen BEI, dikutip dari laman resminya.
Informasi terakhir mengenai BREN yang merupakan emiten sawit ini adalah informasi tanggal 22 Mei 2026 yang
dipublikasikan melalui website PT Bursa Efek Indonesia perihal Pemberitahuan Rencana Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa.
"Sehubungan dengan terjadinya UMA atas saham MGRO tersebut, perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini," tulisnya.
Mengutip data pasar, saham MGRO bergerak stagnan ke harga Rp655 per saham pada perdagangan kemarin. Di sisi lain, saham MGRO turun 3,68% selama satu bulan. Sementara dalam year to date turun 12,08%.
Dengan pengumuman ini, para investor diharapkan untuk memperhatikan jawaban emiten atas permintaan konfirmasi Bursa, mencermati kinerja emiten dan keterbukaan informasinya, mengkaji kembali rencana corporate action emiten apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS, serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.
Sama halnya dengan MGRO, BEI juga memberi perhatian khusus bagi saham GORA karena adanya volatilitas transaksi yang dianggap tak wajar. Adapun keterangan terakhir soal GPRA tertuang pada keterbukaan informasi tanggal 21 Mei 2026 perihal penyampaian bukti iklan pemberitahuan RUPS.
Selama perdagangan kemarin, saham perusahaan properti ini stagnan di level Rp103 Adapun saham GPRA terpantau naik 14,17% dalam periode bulanan, dan telah naik 28,47% selama year to date (YTD).
Di sisi lain, perusahaan BUVA juga dipelototi BEI akibat transaksinya yang tidak wajar. Padahal, sebelumnya, perseroan telah mempublikasikan penjelasan atas volatilitas transaksi tanggal 25 Mei 2026.
Sepanjang perdagangan kemarin, emiten milik Happy Hapsoro ini bergerak di level Rp610 per saham. Adapun sebulan ke belakang sahamnya telah naik 43,26% dan secara year to date naik 59,2%.
(ayh/ayh) Add
source on Google