MARKET DATA

IHSG Masih Tertekan, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

CNBC Indonesia
29 May 2026 08:49
Mega Capital Sekuritas
Mega Capital Sekuritas
PT Mega Capital Sekuritas, bagian dari CT Corpora, hadir sejak 1991 dengan layanan investasi inovatif dan tenaga ahli terpercaya.
IHSG Masih Tertekan, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,23% ke posisi 6.130,19 pada perdagangan Selasa (26/5). Tekanan terhadap indeks dipicu aksi jual investor asing serta sentimen menjelang rebalancing indeks MSCI yang efektif berlaku mulai 1 Juni 2026.

Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Barito Renewables Energy Tbk, dan PT Barito Pacific Tbk menjadi penopang utama pergerakan indeks. Sebaliknya, pelemahan saham PT Astra International Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Central Asia Tbk membebani laju IHSG.

Investor asing tercatat membukukan jual bersih sekitar Rp1,89 triliun di pasar reguler dan Rp1,60 triliun di seluruh pasar. Dari sisi sektoral, delapan dari sebelas sektor berada di zona merah, dengan sektor industrial mencatat koreksi terdalam, sementara sektor infrastruktur menjadi satu-satunya sektor yang masih menguat tipis.

Di pasar global, mayoritas indeks saham Amerika Serikat ditutup menguat. Indeks Dow Jones bergerak relatif datar, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq melanjutkan penguatan. 

Namun, tekanan terhadap pasar domestik dinilai masih berpotensi berlanjut seiring arus keluar dana asing dalam dua hari terakhir mencapai sekitar Rp3,98 triliun di pasar reguler. 

Sentimen tersebut turut dipengaruhi ekspektasi rebalancing MSCI yang diperkirakan memicu potensi arus keluar dana hingga sekitar US$1,16 miliar atau setara Rp20,64 triliun. Pelemahan nilai tukar rupiah juga masih menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar.

Sementara itu, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk disebut akan dibekukan dalam setiap perubahan terkait jumlah saham beredar, Foreign Inclusion Factor (FIF), Domestic Inclusion Factor (DIF), constraint factors, hingga penambahan maupun penghapusan pada indeks MSCI dalam rangka Tinjauan Indeks Mei 2026. 

MSCI dijadwalkan kembali mengevaluasi likuiditas saham teknologi tersebut pada periode review Agustus 2026 sesuai metodologi Global Investable Market Indexes (GIMI).

Likuiditas perdagangan GOTO terpantau menurun dan sahamnya bergerak di level Rp50 sejak 13 Mei 2026. Hingga 26 Mei, volume transaksi GOTO tercatat sekitar 333 juta saham dengan nilai transaksi Rp16,67 miliar, jauh lebih rendah dibanding rata-rata volume Januari-April 2026 yang mencapai sekitar 4,62 miliar saham dengan nilai transaksi Rp274,63 miliar.

Di sisi emiten tambang, PT Harum Energy Tbk menargetkan produksi batu bara sebesar 2-3 juta ton pada 2026. Perseroan juga membidik produksi dan penjualan nikel dalam bentuk NPI, HG Matte, dan MHP di kisaran 107-117 ribu ton metal pada tahun depan. Adapun produksi bijih nikel diproyeksikan mencapai 8-10 juta wet metric ton (wmt).

Untuk mendukung ekspansi tersebut, HRUM menyiapkan belanja modal sebesar US$310 juta. Sebagian besar dana, sekitar US$302 juta, dialokasikan untuk pengembangan proyek nikel yang sudah berjalan, sementara sisanya digunakan untuk pemeliharaan unit usaha batu bara. Hingga kuartal I-2026, realisasi capex telah mencapai sekitar US$139 juta yang mayoritas digunakan untuk pengembangan bisnis nikel.

Sementara itu, PT Triputra Agro Persada Tbk menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp180 per saham atau total sekitar Rp3,57 triliun. Nilai tersebut mencerminkan rasio pembayaran dividen sekitar 96,43% dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Sepanjang 2025, TAPG membukukan pendapatan sebesar Rp11,40 triliun, naik 17,9% secara tahunan. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat 18,59% menjadi Rp3,70 triliun, dengan laba per saham naik menjadi Rp186.

Total dividen Rp180 per saham tersebut sudah termasuk dividen interim Rp39 per saham pada Agustus 2025 dan Rp50 per saham pada November 2025. Dengan demikian, dividen final yang akan dibagikan sebesar Rp91 per saham atau sekitar Rp1,81 triliun.

Pada penutupan perdagangan 26 Mei, saham TAPG berada di level Rp1.495 per saham, yang mencerminkan dividend yield final sekitar 6,09% dan total dividend yield tahun buku 2025 sebesar 12,04%. Cum date dividen ditetapkan pada 3 Juni 2026, sedangkan pembayaran dividen final dijadwalkan berlangsung pada 18 Juni 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. 

Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.

(ayh/ayh) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Breaking News, IHSG Anjlok 2% Lebih Usai MSCI Depak 19 Emiten RI

Most Popular
Features