Sejumlah Tokoh Penting Ramaikan Jogja Financial Festival 2026

Elga Nurmutia, CNBC Indonesia
Sabtu, 23/05/2026 21:53 WIB
Foto: Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Yogyakarta, CNBC Indonesia - Penyelenggaraan Jogja Financial Festival (JFF) 2026 yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC) berjalan dengan sukses. Acara yang digelar dua hari ini menghadirkan tokoh-tokoh penting dan juga pemimpin perusahaan ternama untuk berdiskusi dan berbagi perspektif, dalam mendorong peningkatan literasi keuangan di masyarakat.

Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu turut hadir dan mengajak pelajar dan mahasiswa memanfaatkan festival keuangan di hari kedua ini. Mengingat ajang ini sangat bermanfaat untuk pengembangan kualitas diri dan menggali potensi keuangan.

"Sektor keuangan itu syaratnya ya untuk bisa maju harus disiplin, membangun tata kelola, memberdayakan SDM, bisnis yang menguntungkan, akhirnya kan cuan," ungkap Anggito di Jogja Financial Festival 2026, Sabtu (23/5/2026).


Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan pun mengaku sangat senang adanya penyelenggaraan Jogja Financial Festival 2026. Kegiatan ini dianggapnya sangat positif untuk membangun ekonomi Yogyakarta.

"Kami sangat senang sekali dan acara seperti ini sangat membantu perekonomian Jogja. Teman-teman ISEI bilang Jogja tumbuh karena ekonomi kerumunan. Jadi acara seperti ini kita harapkan bisa setiap minggu," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun mengajak pelajar dan juga Mahasiswa untuk bisa memperkuat kualitas diri untuk bisa sukses di era teknologi saat ini.

Ia pun mencontohkan Founder & Chairman CT Corp Chairul Tanjung sebagai salah satu tokoh yang berasal dari keluarga biasa bisa bisa sukses karena berhasil meningkatkan kualitas dirinya.

"Satu yang harus dimiliki seluruh pelajar atau mahasiswa terlepas apapun latar belakang keluarganya, adalah kualita diri. Karena memperkuat kualitas diri kapasitas pribadi itu adalah kekayan yang tidak bernilai. Pak CT bukan dari keluarga siapa-siapa beliau bisa masuk ke FKUI karena kapasitas kemampuan diri," ujar Misbakhun sesi one on one.

Ia pun berharap para pelajar dan Mahasiswa bisa gunakan kesempatan belajar sebaik-baiknya guna perkuat kemampuan pribadi dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada. Seperti di ajang Jogja Financial Festival 2026 ini, di mana masyarakat bisa belajar dan meningkatkan kualitas diri dari berbagai pakar ekonomi dan keuangan ternama.

Apalagi di era saat ini, pengetahuan bisa didapatkan dengan mudah lewat buku dan internet. Sehingga jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, masyarakat saat ini bisa jauh lebih baik untuk bisa sukses di masa depan.

Sesi Business Talks

Masih dalam acara yang sama, sejumlah pucuk pimpinan perbankan di Tanah Air turut hadir dalam sesi business talks di Jogja Financial Festival 2026.

Pada kesempatan ini para bangkir tidak hanya memberikan pandangan peran perbankan dalam mendorong perekonomian, tetapi juga berbicara soal literasi dan inklusi keuangan. Salah satunya Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Hery Gunardi.

Pada kesempatan ini ia bicara soal evolusi perbankan yang penting untuk dilakukan, mengingat bank memiliki fungsi intermediasi. Dengan kata lain, bank mengumpulkan dana masyarakat dan kemudian disalurkan untuk membiayai bisnis-bisnis yang memang membutuhkan dukungan pendanaan.

"Nah dari aktivitas menyalurkan dana tadi, perbankan tentunya mendapatkan margin, kita namakan net interest margin. Di situlah bank-nya hidup. Jadi artinya bank mesti punya banyak nasabah," lanjutnya.

Untuk itu perbankan dinilainya harus terus bertranformasi memperkuat layanan di masyarakat. Salah satunya seperti yang dilakukan BRI dengan menghadirkan Brimo Mobile Banking.

Ia mengatakan saat ini user Brimo Mobile Banking telah mencapai hampir lebih dari 60 juta.

"Kemudian transaksi harian, Brimo itu sehari itu Rp32 triliun, setahun itu Rp7.500 triliun," ujar Heri dalam Jogja Financial Festival 2026, Sabtu (23/5/2026).

Hal ini menjadi bukti bahwa perbankan terus mengalami perubahan dan berevolusi untuk menjadi yang terbaik.

Di sisi lain, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengandalkan program kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi dan digitalisasi untuk memperluas inklusi keuangan, khususnya bagi masyarakat unbanked atau yang belum tersentuh layanan perbankan.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu mengatakan, saat ini BTN memiliki dua fokus utama dalam rangka memperluas akses layanan keuangan masyarakat.

"Pertama dari KPR tentu dibantu pemerintah. Pemerintah membuat program KPR subsidi yang dibatasi maksimum income karena memang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah yang banyak unbanked," ujar Nixon.

Sementara itu Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan, sektor perbankan dapat ikut menentukan arah pertumbuhan ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Penyaluran pembiayaan dari perbankan menurutnya bisa menjadi motor pertumbuhan sektor-sektor tertentu, sekaligus menjadi enabler perekonomian.

"Di sinilah peran perbankan syariah dalam membangun ekonomi yg adil transparan berkelanjutan dan bermanfaat. Ekonomi tidak hanya untuk profit, jadi bagaimana kami di BSI bisa mendorong UMKM. Kami akan membiayai UMKM agar pertumbuhannya sustain," ungkap Anggoro.

Dia menegaskan, pembiayaan UMKM yang dilakukan BSI menganut prinsip keberlanjutan. Ditambah lagi, BSI masuk ke ekosistem dengan prinsip syariah, seperti pesantren, halal lifestyle, haji, hingga umroh.

Dalam sesi diskusi ini, Direktur Treasury & International Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Abu Santosa Sudradjat mengungkapkan digitalisasi dan jaringan global menjadi kekuatan utama BNI untuk membantu pelaku usaha Indonesia menembus pasar internasional.

Saat ini, BNI memiliki delapan financial center dan 10 cabang internasional yang berfungsi sebagai penghubung bisnis Indonesia dengan pasar dunia.

"Kami punya jaringan internasional besar. Bisnis utama kami menjadi gateway penghubung dunia internasional dan Indonesia, dan sebaliknya," terang Abu.

Menurutnya, banyak UMKM Indonesia sebenarnya memiliki produk unggulan dan potensi besar masuk pasar global. Namun, tantangan terbesar bagi UMKM adalah kesulitan akses dan konektivitas internasional.

Di lain pihak, Direktur Finance & Strategy PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Novita Widya Anggraini mengungkapkan, masyarakat Indonesia masih cukup bergantung pada transaksi tunai di tengah pesatnya pertumbuhan layanan digital banking dan penggunaan internet oleh generasi muda.

Dari situ, ia menilai transaksi digital patut terus meningkat seiring dominasi generasi milenial dan Gen Z dalam aktivitas internet nasional. Namun, penggunaan uang tunai masih relatif besar.

"Kami punya data bahwa masih ada sekitar 39% transaksi masyarakat yang sifatnya cash," ujar Novita.

CEO Talks

Penyelengaraan Jogja Financial Festival 2026 hari ini juga menghadirkan narasumber dari pelaku usaha tambang, salah satunya Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto.

Pada sesi ini Ia buka-bukaan soal isu pertambangan yang kerap di narasikan destruktif, sehingga banyak mendapat sorotan banyak pihak.

Padahal, sosok yang biasa disapa Anto tersebut menilai pertambangan merupakan tulang punggung peradaban. Selain itu, dari seluruh daratan, lahan yang digunakan untuk kegiatan pertambangan sebenarnya kurang dari 1%. Khusus untuk nikel dan beberapa mineral lainnya, komoditas ini justru banyak digunakan untuk tujuan yang positif yaitu mendorong transisi energi.

Seperti diketahui, nikel digunakan sebagai bahan baku utama katoda baterai kendaraan listrik atau EV, sistem penyimpanan energi terbarukan, serta sebagai material infrastruktur turbin angin dan jaringan transmisi yang efisien.

"Saya berani sampaikan ke publik nikel yang diproduksi Vale ini sustainable nikel," tegasnya.

Financial Market: Bonds and Capital

Dalam Jogja Financial Festival 2026 hari ini, berbagai lembaga seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga lembaga pembiayaan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) juga turut meramaikan untuk melaporkan update informasi seputar pasar keuangan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto menjelaskan alasan pemerintah terus menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) untuk membiayai APBN.

Menurut Suminto, APBN menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga pemerintah perlu menjaga belanja negara tetap ekspansif agar pembangunan dan kesejahteraan masyarakat terus berjalan.

"APBN adalah instrumen penting pembangunan. APBN kita desain defisit itu adalah cara kita mengelola APBN dengan ekspansif. Pemerintah perlu belanja lebih besar supaya ekonomi bergerak lebih kuat," imbuh Suminto.

Sementara PJS Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik optimistis bahwa pasar modal Indonesia masih memiliki prospek cerah pada 2026 di tengah tingginya minat investasi masyarakat, khususnya generasi muda. Hal ini dibuktikan melalui jumlah investor pasar modal yang terus melonjak sejak pandemi Covid-19.

"Dua tahun Covid jumlah investor tumbuh dari 4-5 juta menjadi 10 juta. Sekarang sudah mencapai 27,4 juta investor. Dalam lima tahun bertambah lebih dari 17 juta atau naik dua kali lipat," terang dia.

Sedangkan Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) Reynaldi Hermansjah, mengaku kalau SMI terus menerapkan berbagai strategi untuk menjaga rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) agar tetap sangat rendah di tengah tingginya risiko pembiayaan proyek infrastruktur jangka panjang.

"Ini menggambarkan exposure kami dalam pembiayaan infrastruktur di Indonesia," katanya.

Berdasarkan paparan SMI, hingga akhir 2025, terdapat 492 proyek secara kumulatif yang tersebar di seluruh Indonesia dengan pembiayaan kumulatif sebesar Rp 274,96 triliun.

One On One Executive

Tak kalah menarik, ajang ini juga menghadirkan diskusi One on One Executive bersama Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara/Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Dony Oskaria.

Pada sesi ini ia menyoroti perihal keuntungan BUMN di Indonesia yang kerap menjadi pertanyaan publik.

Dia menegaskan menegaskan bahwa kontribusi BUMN mencapai sepertiga dari APBN RI, baik itu dalam bentuk dividen maupun dalam bentuk pajak.

Pada tahun 2025, keuntungan BUMN Indonesia mencapai Rp 335 triliun dan kontribusi pembayaran pajaknya mencapai Rp 215 triliun. Sedangkan pada tahun ini, Dony memperkirakan keuntungan BUMN bisa mencapai Rp 360 triliun dan dalam tiga tahun ke depan keuntungannya ditargetkan bisa mencapai Rp 450 triliun.

"Tahun ini kita berharap Rp 360 triliun untungnya. Saya sendiri punya harapan paling tidak ketika saya pensiun BUMN (2029) itu bisa memungkinkan keuntungan sedikitnya Rp450 triliun," pungkasnya.


(dpu/dpu) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: RI Tergantung Alkes Impor, PR Modernisasi Alkes RI Saat Perang