MARKET DATA

Bos BRI Bicara Evolusi Perbankan, Singgung Digitalisasi hingga AI

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
23 May 2026 11:31
Foto: Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Hery Gunardi saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Hery Gunardi saat menyampaikan pemaparan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Sabtu (23/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Yogyakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) Hery Gunardi menjadi salah satu pembicara pada Business Talk The Bankers dalam rangkaian Jogja Financial Festival di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026). Dalam paparannya, Hery bicara soal evolusi perbankan.



Mengawali paparannya, dia menjelaskan kalau bank merupakan lembaga yang memiliki fungsi intermediasi. Artinya, bank mengumpulkan dana masyarakat dan kemudian disalurkan membiayai bisnis-bisnis yang memang membutuhkan pembiayaan.

"Nah dari aktivitas menyalurkan dana tadi, perbankan tentunya mendapatkan margin, kita namakan net interest margin. Di situlah bank-nya hidup," ujar Hery.

"Jadi artinya bank mesti punya banyak nasabah. Jadi teman-teman di belakang harus menjadi nasabahnya BRI gitu ya," lanjutnya.

Menurut Hery, perbankan terus berubah dan mengalami evolusi. Ia lantas mengutip penjelasan penulis terkemuka Brett King yang banyak menulis soal perbankan.

Pada era bank 1.0, layanan dasar bank adalah transaksi hanya menggunakan cek dan giro. Kemudian era bank 2.0 di mana muncul penggunaan automatic teller machine (ATM) yang dapat melayani nasabah 7x24 jam.

"Kemudian bank 3.0 itu adalah terkait juga dengan internet banking. Jadi nasabah mungkin nggak perlu lagi datang ke cabang bank misalnya, bagi nasabah korporasi, mereka bisa melakukan transaksi dari kantor dengan internet banking," kata Hery.

"Nah yang keempat ini adalah financial technology, fintech dan juga digitalisasi. Nah digital ini adalah memang sudah mengubah behavior, perilaku, daripada nasabah-nasabah yang ada di Indonesia terutama dan juga yang ada di luar negeri misalnya," lanjutnya.

Hery bilang kalau digitalisasi di sektor perbankan sangat cepat. Momen pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu turut mempercepat proses tersebut.

"Itu nasabah kan nggak bisa datang ke cabang. Jadi yang tadinya gaptek (gagap teknologi), nggak bisa menggunakan mobile banking, itu terpaksa menggunakan mobile banking, karena nggak bisa datang ke ATM, nggak bisa datang ke cabang, nggak bisa transaksi di teller dan seterusnya," ujar Hery.

Mengutip data Bank Indonesia, dia mengungkapkan selama pandemi Covid-19, ada sekitar 50 juta hingga 60 juta pengguna baru untuk internet banking dan mobile banking.

"Nah pertanyaan sekarang, bagaimana bank ini bertransformasi dengan berubahnya teknologi, lingkungan bisnis dan juga nasabah yang makin kompleks ya," kata Hery.

Menurut dia, bank harus mengubah cara kerja hingga pelayanan kepada nasabah sehingga bisa tetap update dan tetap relevan dengan nasabah.

"Nah apa yang dilakukan adalah tentunya bank juga seperti tadi saya kembali lagi, Brett King bilang, bank itu menurut Brett King itu, bank is a technology company with bank license. Sebenarnya bank itu technology company," ujar Hery.

Jadi artinya, lanjut dia, dengan kondisi seperti ini, perbankan tidak akan bisa melawan perkembangan zaman.

"Ini adalah satu keharusan bahwa kita harus mentransformasi diri, mengubah diri. Bukan hanya digitalisasi, bukan hanya otomasi, tetapi juga terkait dengan sekarang ada AI dan Gen AI. Jadi kalau itu tidak diubah, kita tidak lagi mengikuti tren ini, bank itu akan ditinggalkan oleh customer-nya," kata Hery.

(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article BRI di Tahun Pertama Hery Gunardi: CASA Ngebut, Profitabilitas Tebal


Most Popular
Features