Gubernur DIY Sri Sultan Sorot Pinjol, Sebut Fenomena 'Makan Utang'

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Jumat, 22/05/2026 11:35 WIB
Foto: Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X saat menyampaikan sambutan dalam Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, DIY, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Yogyakarta, CNBC Indonesia — Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Hamengku Buwono X menyoroti fenomena masyarakat yang semakin mudah terjebak utang di tengah pesatnya perkembangan layanan keuangan digital dan skema "beli sekarang bayar nanti" atau buy now pay later (BNPL).

Hal itu disampaikan Sri Sultan dalam pembukaan Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).

Menurut Sultan, tantangan utama saat ini bukan lagi sekadar memperluas akses keuangan, melainkan memastikan akses tersebut benar-benar membuat masyarakat lebih berdaya, bukan justru terjebak konsumsi dan utang.


"Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah akses itu membuat manusia semakin berdaya, atau justru semakin mudah diarahkan oleh hasrat konsumsi, algoritma, dan utang yang datang dengan wajah kemudahan," ujarnya.

Ia mengatakan budaya konsumtif di era digital membuat nilai-nilai kehati-hatian dalam mengelola keuangan semakin relevan dibanding sebelumnya.

"Kebebasan finansial bukan soal kemampuan membeli, melainkan kemampuan menahan," katanya.

Sultan menjelaskan falsafah Jawa seperti Gemi, Nastiti, Ngati-ati menjadi fondasi penting dalam membangun perilaku ekonomi yang sehat, mulai dari pengendalian diri, kecermatan mengambil keputusan hingga kehati-hatian terhadap risiko finansial.

Ia juga menyinggung meningkatnya penggunaan pinjaman online di Indonesia. Berdasarkan data yang ia sampaikan, outstanding pinjaman online atau peer-to-peer lending hingga Maret 2026 telah mencapai Rp101,03 triliun atau tumbuh 26,25% secara tahunan.

Jumlah peminjam aktif disebut telah menembus lebih dari 26 juta orang dengan tingkat kredit macet TWP90 sebesar 4,52%.

"Fenomena 'makan utang' membuktikan bahwa kemudahan akses tanpa literasi justru mempercepat kesulitan," ujarnya.

Selain pinjaman online, Sultan juga menyoroti pesatnya digitalisasi transaksi keuangan nasional. Pengguna QRIS nasional per Februari 2026 disebut telah mencapai 60,77 juta pengguna.

Meski menjadi capaian positif, ia menilai inklusi keuangan digital bagi pedagang kecil dan kelompok lanjut usia masih perlu diperkuat.

Sultan menegaskan literasi keuangan tidak cukup hanya dipahami di ruang akademik atau kebijakan, tetapi harus menjadi budaya sehari-hari masyarakat.

"Yang kita bangun bukan hanya transaksi, melainkan ekosistem pemberdayaan. Bukan hanya pasar, melainkan daya hidup warga," katanya.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Nasib Bisnis Logistik Batu Bara Saat Perang & RKAB Dipangkas