Minyak Naik Tipis, Pasar Masih Dibayangi Iran & Selat Hormuz

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Kamis, 21/05/2026 11:45 WIB
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia kembali naik pada perdagangan Kamis pagi, setelah sempat jatuh tajam lebih dari 2% pada awal pekan akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda serangan terhadap Iran.

Pelaku pasar kini bergerak di antara dua kutub besar: harapan negosiasi damai dan ketakutan gangguan pasokan global.

Menurut data Refinitiv pada Kamis (21/5/2026) pukul 09.50 WIB, harga minyak Brent kontrak Juli (LCOc1) berada di US$105,92 per barel, naik dibanding penutupan sebelumnya di US$105,02 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni (CLc1) tercatat US$99,15 per barel, menguat dari posisi US$98,26 per barel.


Kenaikan hari ini datang setelah dua hari perdagangan yang sangat liar. Pada 19 Mei, Brent masih bertengger di US$111,28 per barel dan WTI US$107,77 per barel. Bahkan sehari sebelumnya Brent sempat menyentuh US$112,1 per barel dan WTI US$108,66 per barel, level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Volatilitas itu dipicu langsung oleh perkembangan konflik Timur Tengah. Reuters melaporkan Trump menunda rencana serangan terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi baru terkait program nuklir Tehran. Pernyataan itu langsung memicu aksi jual besar di pasar minyak karena risiko perang kawasan dianggap sedikit mereda.

Namun pasar belum benar-benar tenang. Konflik yang memanas di kawasan Teluk telah mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di titik ini selalu memicu lonjakan premi risiko energi global.

Iran sendiri dikabarkan mengirim proposal perdamaian baru melalui Pakistan. Meski demikian, proses diplomasi masih berjalan lambat. Reuters juga melaporkan muncul kabar bahwa Washington akan memberi kelonggaran sementara terhadap ekspor minyak Iran selama proses negosiasi berlangsung, walau kabar itu langsung dibantah pejabat AS.

Di saat bersamaan, AS memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari bagi negara-negara yang masih membeli minyak Rusia lewat jalur laut. Kebijakan ini membuat pasar melihat Washington berusaha menjaga pasokan global tetap mengalir di tengah situasi geopolitik yang panas.

Faktor lain yang ikut menopang harga datang dari sisi cadangan minyak AS. Data Departemen Energi AS memperlihatkan Strategic Petroleum Reserve (SPR) anjlok 9,9 juta barel pekan lalu. Stok kini tersisa sekitar 374 juta barel, terendah sejak Juli 2024. Penurunan tajam cadangan strategis membuat bantalan pasokan AS makin tipis saat pasar sedang menghadapi ancaman gangguan distribusi global.

Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol bahkan mengingatkan stok minyak komersial global turun cepat dan pasokan efektif hanya tersisa untuk beberapa pekan apabila konflik terus mengganggu pengiriman energi internasional.

Pergerakan harga dalam sepekan terakhir memperlihatkan pasar minyak kini sepenuhnya digerakkan oleh geopolitik. Dalam delapan hari perdagangan terakhir, Brent bergerak dari US$105,63 per barel pada 13 Mei, melonjak ke atas US$112, lalu turun lagi mendekati US$105. Sementara WTI sempat naik dari kisaran US$101 menjadi lebih dari US$108 sebelum akhirnya kembali ke bawah US$100.

CNBC Indonesia Research


(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: PLTN UEA Diserang, Harga Minyak Mendidih & Harga Emas Ambruk 4%