Breaking News! IHSG Anjlok 1,43%
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik anjlok pada perdagangan Kamis pagi (21/5/2026), setelah sempat dibuka menguat di awal sesi.
Per pukul 09.26 WIB, IHSG ambles 1,43% atau turun 90,40 poin ke level 6.228,10. Pelemahan terjadi setelah indeks sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.378,81.
Sebanyak 418 saham terkoreksi, 193 saham menguat, dan 348 bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp3,83 triliun dengan volume perdagangan 6,04 miliar saham dalam 392.200 kali transaksi.
Tekanan di pasar saham domestik terjadi di tengah respons investor terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 19-20 Mei 2026.
Sejalan dengan keputusan tersebut, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25% dan Lending Facility menjadi 6,00%.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kenaikan suku bunga dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tekanan global akibat konflik Timur Tengah serta menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran bank sentral.
"Berdasarkan asesmen menyeluruh ekonomi global dan risiko yang kami sampaikan, Rapat Dewan Gubernur pada 19-20 Mei 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate 50 basis poin menjadi 5,25%," ujar Perry, Rabu (20/5/2026).
Pelaku pasar juga mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto terkait rancangan awal APBN 2027 yang menargetkan defisit fiskal tetap dijaga rendah di kisaran 1,8%-2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Di sisi lain, investor masih menunggu arah kebijakan moneter global, terutama risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang akan menjadi petunjuk arah suku bunga Amerika Serikat ke depan.
Postur fiskal tahun depan dirancang dengan belanja negara yang lebih efisien dan produktif. Belanja negara ditargetkan berada di kisaran 13,62%-14,8% PDB, sementara pendapatan negara akan dioptimalkan pada kisaran 11,82%-12,40% PDB.
"Kita akan berjuang terus menekan dan memperkecil defisit ini," kata Prabowo saat pidato di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Selain defisit, Prabowo juga menyampaikan sejumlah asumsi makro dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal atau KEM PPKF 2027. Dokumen ini akan menjadi dasar penyusunan RAPBN 2027.
Untuk nilai tukar, pemerintah menargetkan rupiah berada di kisaran Rp16.800-Rp17.500/US$ pada 2027. Asumsi ini menjadi perhatian karena disampaikan saat rupiah masih berada dalam tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat.
Dari sisi pertumbuhan, pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,8%-6,5% pada 2027. Sementara inflasi ditargetkan berada di kisaran 1,5%-3,5%.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]