Perusahaan Taipan RI Akusisi Tambang Batubara Australia US$3,9 Miliar

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Rabu, 20/05/2026 08:15 WIB
Foto: President Director Amman Mineral Alexander Ramlie. (Dok. Amman Mineral)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan tambang yang didukung konglomerat Indonesia, Alexander Ramlie, melalui Dhilmar, dikabarkan akan mengakuisisi tambang batu bara kokas (coking coal) milik Anglo American di Australia dengan nilai transaksi mencapai US$3,9 miliar atau setara Rp 68,64 triliun (asumsi kurs Rp 17.600/US$).

Mengutip Forbes, perusahaan asal Inggris tersebut akan membayar sebesar US$2,3 miliar setelah transaksi rampung pada kuartal I-2027. Selain itu, ada tambahan pembayaran hingga US$1,6 miliar yang nilainya bergantung pada pergerakan harga batu bara kokas dalam lima tahun setelah transaksi ditutup.


Langkah akuisisi ini dilakukan di tengah meningkatnya permintaan batu bara kokas global yang digunakan sebagai bahan baku utama industri baja.

Disebutkan bahwa tambang tersebut sempat direncanakan dijual kepada perusahaan tambang asal Amerika Serikat, Peabody Energy, pada November 2024. Namun sayangnya transaksi tersebut gagal terealisasi setelah terjadi kebakaran pada Maret 2025 yang menyebabkan operasional Moranbah North Mine di Australia sempat dihentikan sementara.

Anglo American mengatakan akan terus melanjutkan proses arbitrase dengan Peabody terkait kesepakatan yang gagal tersebut.

Anglo American adalah eksportir batubara kokas terbesar ketiga di dunia, memasok pelanggan di seluruh Asia, Eropa, dan Amerika Selatan. Perusahaan ini mengoperasikan lima tambang yang menghasilkan 8,2 juta ton batubara kokas tahun lalu. Dua tambang terbesarnya-Tambang Moranbah North dan Tambang Grosvenor-keduanya terletak di Queensland, Australia.

Batubara kokas, bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan baja, diperkirakan akan mengalami peningkatan permintaan seiring dengan meningkatnya konsumsi baja global. Menurut Asosiasi Baja Dunia, permintaan baja global diperkirakan akan meningkat 0,3% pada tahun 2026 menjadi 1,7 miliar ton, sebelum meningkat 2,2% pada tahun 2027 menjadi 1,8 miliar ton.

Dengan kekayaan bersih aktual sebesar 1,4 miliar dolar AS, Alexander Ramlie termasuk di antara orang terkaya di Indonesia. Ia adalah CEO Dhilmar, yang pada tahun 2025 mengakuisisi tambang emas Éléonore di Kanada dari raksasa emas AS, Newmont, seharga US$ 795 juta. Ramlie juga merupakan komisaris Amman Mineral Internasional, yang mengoperasikan salah satu tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Transisi Energi, Pipa Baja Rendah Karbon Asal RI Makin Eksis