Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Turun ke US$110

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Selasa, 19/05/2026 10:30 WIB
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Selasa pagi (19/5/2026), setelah sehari sebelumnya sempat melonjak ke level tertinggi dalam beberapa pekan. Pasar mulai melepas premi risiko geopolitik usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan rencana serangan terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi baru.

Menurut data Refinitiv per Selasa (19/5/2026) pukul 09.50 WIB, harga minyak Brent berada di posisi US$110,01 per barel, turun dibanding penutupan Senin yang mencapai US$112,1 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di US$107,71 per barel, lebih rendah dari posisi sebelumnya di US$108,66 per barel.

Meski turun pada pagi ini, harga minyak masih bertahan di area tertinggi sepanjang Mei. Dalam dua pekan terakhir, Brent telah melesat hampir 10% dari posisi US$100,06 per barel pada 7 Mei menjadi di atas US$110 per barel. WTI bahkan naik lebih dari US$13 per barel dibanding posisi awal bulan.


Kenaikan tajam sebelumnya dipicu eskalasi konflik Timur Tengah yang membuat pasar khawatir terhadap pasokan global energi. Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima suplai minyak dunia, praktis mengalami gangguan akibat konflik tersebut. Kondisi ini memicu kepanikan pasar karena tanker minyak dan distribusi energi global berada dalam tekanan tinggi.

Reuters melaporkan, Trump mengatakan terdapat "peluang sangat baik" bagi Washington dan Teheran untuk mencapai kesepakatan baru terkait program nuklir Iran. Pernyataan itu keluar hanya beberapa jam setelah Gedung Putih mengumumkan penundaan aksi militer terhadap Iran.

Pasar langsung merespons cepat. Minyak Brent sempat jatuh lebih dari 2% pada perdagangan Asia, sementara WTI terkoreksi lebih dari 1%. Pelaku pasar kini menilai arah berikutnya sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran serta situasi pengiriman tanker di Selat Hormuz.

Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan pasar masih berhati-hati karena risiko utama belum hilang. Investor kini memantau apakah langkah Trump merupakan awal deeskalasi permanen atau hanya jeda taktis di tengah konflik yang masih panas.

Di tengah upaya diplomasi tersebut, Iran dikabarkan mengirim proposal perdamaian baru melalui Pakistan. Pemerintah Pakistan disebut menjadi mediator komunikasi antara Washington dan Teheran, walau proses negosiasi berjalan lambat. Media semi-resmi Iran bahkan melaporkan AS bersedia melonggarkan sanksi ekspor minyak Iran selama pembicaraan berlangsung. Namun klaim itu langsung dibantah pejabat AS.

Faktor lain yang ikut menjaga harga minyak tetap tinggi datang dari sisi cadangan energi Amerika Serikat. Departemen Energi AS mencatat pelepasan 9,9 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) pekan lalu. Angka tersebut menjadi penarikan terbesar dalam periode terbaru dan membuat stok cadangan turun menjadi sekitar 374 juta barel, level terendah sejak Juli 2024.

Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol turut memperingatkan bahwa persediaan minyak komersial dunia terus menyusut cepat akibat konflik dan gangguan distribusi laut. Dalam kondisi normal, stok minyak global dapat menjadi bantalan ketika terjadi gangguan pasokan. Namun kali ini ruang penyangga pasar makin tipis.

CNBC Indonesia Research


(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: PLTN UEA Diserang, Harga Minyak Mendidih & Harga Emas Ambruk 4%