Soal "Desa Tak Pakai Dolar", DPR Minta Warga Jangan Salah Arti

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 18/05/2026 19:19 WIB
Foto: Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI M. Misbakhun meminta agar masyarakat tidak menyalahartikan pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa warga desa tidak menggunakan dolar Amerika Serikat (AS). Pernyataan tersebut disampaikan di tengah gejolak nilai tukar.

Menurut Misbakhun, Presiden bermaksud untuk menenangkan masyarakat dalam menghadapi gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar yang begitu tinggi. Presiden meminta masyarakat tenang, karena fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Bahkan, hal ini sudah disampaikan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo.


"Yang dimaksud Bapak Presiden itu orang desa tidak menggunakan dolar. Tapi itu adalah pesan yang tersirat. Tujuannya adalah menenangkan," tegas Misbakhun.

Adapun, upaya menenangkan yang dimaksud adalah untuk menjaga psikologis masyarakat. Dia berharap jangan sampai masalah dolar AS yang menekan nilai tukar rupiah ini menjadi obrolan di mana-mana hingga ke warung Indomie dan menimbulkan kepanikan.

"Orang tujuannya menenangkan untuk menjaga stabilitas, ketenangan psikologis masyarakat. Jangan sampai di warung kopi ngomongin dolar, di warung Indomie ngomongin dolar, terus di mana-mana ngomongin dolar. Terus apakah mereka benar bahwa beli Indomie, beli kopi pakai dolar? Enggak."

Kendati demikian, Misbakhun mengakui bahwa pelemahan nilai tukar berdampak untuk masyarakat. Selain itu, dia menilai masyarakat harus paham bahwa DPR telah mendesak Bank Indonesia (BI) untuk melakukan tugasnya dalam menjaga stabilitas rupiah dengan sungguh-sungguh.

"(DPR) Meminta Bank Indonesia melakukan operasi moneter yang terukur bahasa kita tadi. Yang bisa memberikan dampak secara langsung terhadap penguatan nilai tukar rupiah. Bahkan kita minta rupiah dikerek kepada angka kesepakatan politik di Rp16.500 sesuai dengan keputusan asumsi makro di APBN," ujarnya.

Pernyataan Presiden Prabowo bahwa masyarakat di desa tidak menggunakan dolar AS dalam acara peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu lalu (16/5/2026), memang menjadi sorotan.

Saat itu, Prabowo mengatakan dampak pelemahan nilai tukar rupiah lebih banyak dirasakan oleh kelompok yang sering bertransaksi atau bepergian ke luar negeri daripada orang desa.

"Nggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar," kata Prabowo.

Hal ini pun sudah dijelaskan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Purbaya menjelaskan bahwa Prabowo paham betul terkait kondisi rupiah saat ini. Namun, pada saat itu konteks pembicaraannya adalah penggunaan langsung dolar AS bagi koperasi desa merah putih.

"Itu konsumsi orang desa pada waktu kemarin. Jadi jangan anggap Pak Presiden gak ngerti Pak Presiden mengerti betul tentang rupiah. Cuma kan konteksnya di sana waktu kemarin (acara peresmian Koperasi Desa Merah Putih)," tegasnya.

Di Istana Kenegaraan, Purbaya juga menjelaskan presiden tidak asal asal bicara soal rupiah. Dia memastikan presiden memahami konteks soal pelemahan rupiah ini.

"Bukan berarti pak presiden nggak ngerti rupiah, dia kan juga beneran. Jadi konteksnya seperti itu," tambahnya.

Purbaya juga mengatakan bahwa pernyataan yang dilontarkan presiden itu dilontarkan untuk menghibur atau menenangkan rakyat.

"Untuk menghibur rakyat saja, waktu itu di sana. Saya sih lihat konteksnya pedesaan waktu kemarin itu. Gak apa-apa ngomong begitu," kata Purbaya.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan