Dilema BI Belajar dari Krisis 98, Rupiah Aman Tapi Likuiditas Kering

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 18/05/2026 18:20 WIB
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan pemaparan saat konferensi pers hasil rapat berkala KSSK tahun 2026 di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (7/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bank sentral telah banyak belajar dalam melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah selama krisis 1997-1998 dan 2008.

Menurut Perry, pada masa krisis tersebut, banyak intervensi rupiah menguras likuiditas. Alhasil kondisi ini menciptakan kekeringan likuiditas. Belajar dari hal ini, kebijakan bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar kini dilakukan lebih terukur.


"Kami belajar dulu zaman 97-98 dan 2008 banyak fokus stabilitas nilai rupiah banyak intervensi menguras likuiditas. Sehingga mengobati stabilitas rupiah tapi membuat kekeringan likuiditas," ujar Perry dalam paparan di Rapat Kerja Komisi XI DPR, Senin (18/5/2025).

Alih-alih masuk ke pasar spot, untuk menjaga cadangan devisa, BI memilih untuk melakukan intervensi dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. 

Dalam upaya tersebut, Perry menuturkan BI baru menghabiskan Rp 133 triliun (year to date/ytd) untuk membeli SBN di pasar sekunder. Ini menandakan BI tetap terukur dalam menggunakan cadangan devisa untuk melakukan stabilisasi rupiah melalui pembelian SBN.

Perry pun mengatakan posisi kepemilikan SBN BI telah mencapai Rp 1.700 triliun dan SBN ini umumnya memiliki tenor jangka pendek. Ketika dijual kembali, BI berharap SBN ini dapat menciptakan arus modal masuk atau inflow.

"Kami ada Rp 1.700 triliun dalam SBN kami, kami jual jangka pendek jadi ada inflow. Tapi kami beli yield jangka panjang," ujarnya.

Dengan upaya ini, BI dapat menghemat cadangan devisa dan sekaligus menjaga agar yield SBN tidak naik terlalu tinggi.

Selain itu, BI juga menjaga likuiditas di pasar dengan berbagai kebijakan a.l. mendorong uang primer tumbuh double digit, memberikan batasan pembelian dolar AS sebesar US$ 25.000 per orang per bulan. Hal ini dilakukan agar pembelian dolar lebih terukur sehingga likuiditas dolar tetap terjaga.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: BI Siapkan 7 Jurus "Penyelamatan" Rupiah, Seberapa Efektif?