Luhut Kumpulkan Petinggi OJK, Bahas Reformasi Pasar Modal-Nasib Rupiah

Zahwa Madjid, CNBC Indonesia
Senin, 18/05/2026 15:56 WIB
Foto: Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menggelar pertemuan strategis dengan jajaran pimpinan baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Senin (18/5/2026). (Dok. DEN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menggelar pertemuan strategis dengan jajaran pimpinan baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Senin (18/5/2026).

Melansir keterangan resminya, pertemuan tersebut membahas penguatan sinergi lintas otoritas untuk menjaga stabilitas sektor keuangan nasional di tengah tingginya dinamika perekonomian global dan domestik.


Dalam pertemuan, DEN menyoroti pentingnya percepatan reformasi pasar modal guna meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat fundamental ekonomi nasional.

Luhut menilai arah kebijakan reformasi yang telah diumumkan OJK sudah berada di jalur yang tepat. Namun, pemerintah juga mengidentifikasi adanya tantangan nyata berupa keraguan dari pelaku pasar, khususnya investor institusi asing, terhadap konsistensi dan kecepatan eksekusi reformasi di lapangan.

"Ini adalah momentum yang tidak boleh dilewatkan untuk melakukan reformasi pasar modal secara komprehensif dan kredibel. DEN akan mendukung penuh OJK dalam mengawal proses ini," ujar Luhut dalam keterangan resmi dikutip Senin (18/5/2026).

Dirinya menjelaskan, jika implementasi reformasi mampu dijaga secara konsisten, arus modal asing berpotensi kembali masuk ke pasar keuangan domestik dan memperkuat nilai tukar rupiah.

"Jika konsistensi implementasi dapat dijaga, arus modal asing akan kembali masuk dan secara langsung memperkuat fundamental Rupiah kita," tambahnya.

Selain membahas pasar modal, pemerintah juga menilai kondisi makroekonomi dan sektor perbankan nasional saat ini masih relatif stabil.

Kendati demikian, DEN mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara dukungan pembiayaan terhadap program prioritas pemerintah dengan penerapan tata kelola perusahaan yang baik serta manajemen risiko yang ketat.

OJK juga didorong untuk terus melahirkan inovasi kebijakan, khususnya dalam aspek pendalaman sektor keuangan (financial deepening) agar ekosistem industri tetap sehat dan mampu memberikan daya dukung maksimal bagi pembiayaan ekonomi nasional.

Pemerintah pun menggarisbawahi perlunya mitigasi risiko yang tegas pada sektor Bank Perekonomian Rakyat (BPR). Berdasarkan pemantauan data terkini, DEN mencatat tren peningkatan Rasio Kredit Bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang cukup signifikan.

"Saat ini OJK telah mengambil langkah-langkah strategis. Namun, sebagai langkah antisipatif, proses restrukturisasi dan penguatan kelembagaan BPR perlu dilakukan secara lebih komprehensif agar tidak berkembang menjadi sumber kerentanan sistemik di kemudian hari," ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, DEN dan OJK sepakat memperkuat mekanisme koordinasi yang lebih erat untuk memantau perkembangan nilai tukar Rupiah, kondisi pasar keuangan, dan persepsi investor secara berkala.

"Di tengah tekanan global dan domestik yang masih tinggi, koordinasi adalah kunci. Pertemuan reguler antara DEN dan OJK akan kita rutinkan sebagai forum untuk saling bertukar pandangan dan merumuskan kebijakan yang responsif demi menjaga stabilitas sistem keuangan negara," ujar Luhut.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: OJK Sebut Pasokan Valas di Perbankan Masih Melimpah