Stabilkan Rupiah, BI Sudah Pakai Cadangan Devisa US$ 10 Miliar

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 18/05/2026 15:18 WIB
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam rangkaian pertemuan lanjutan dengan investor global pada IMF Spring Meetings Selasa (14/4). (Dok BI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, upaya bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah menggunakan sekitar US$ 10 miliar cadangan devisa atau cadev.

Perry mengatakan, mengatakan, cadangan devisa yang digunakan itu untuk intervensi kurs rupiah yang di perdagangkan di pasar spot, baik itu di dalam maupun luar negeri.

"Penurunan cadangan devisa yang sekitar US$ 10 miliar itu baru sebagian saja intervensi yang tunai nih," kata Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (18/5/2026).


Sebagaimana diketahu, nilai cadev yang tercatat oleh BI hingga data terakhir per April 2026 sebesar US$ 146,2 miliar. Nilai ini merupakan hasil penurunan yang konsisten yang terjadi sejak Desember 2025 di level sekitar US$ 156 miliar.

Meskipun cadev turun, Perry memastikan, BI tidak serta merta hanya melakukan intervensi di pasar untuk stabilitas kurs yang saat ini tengah tertekan, melainkan juga ada skema hedging maupun spot.

"Supaya karena ini tidak semua menguras cadangan devisa. Kami pastikan cadangan devisa lebih dari cukup, ukurannya ada IMF, yakni indikator kecukupan cadangan devisa, jadi kami ukur dan memang turun dulu pernah 121 sekarang 114 tapi masih di atas 100 sehingga lebih dari cukup jadi dosis intervensinya kami naikkan," ucap Perry.

"Dan intervensi ini bukan business as usual loh, sudah all out," tegasnya.

Sebagaimana diketahui, sepanjang perdagangan hari ini, rupiah dibuka di level Rp17.630/US$ dan sempat melemah lebih dalam hingga menyentuh Rp17.670/US$.

Namun, pada penutupan perdagangan ini rupiah berakhir di zona merah dengan melemah 1,03% ke level Rp17.640/US$. Level tersebut membuat rupiah kembali menembus area psikologis di atas Rp17.000/US$ dan menjadi posisi penutupan terlemah sepanjang sejarah, berdasarkan data Refinitiv.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau berbalik melemah 0,11% ke level 99,174.


(arj/arj) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Parah, Begini Proyeksi Dolar AS Ke Depan