Belasan Tahun Mau Go Private, SCPI Kembali Tender Offer Buat Delisting
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten farmasi PT Organon Pharma Indonesia Tbk (SCPI) mengumumkan penawaran tender sukarela atau voluntary tender offer (VTO) seiring rencananya untuk go private atau delisting.
Manajemen SCPI dalam keterbukaan informasi menjelaskan, rencana go private dan delisting tersebut nantinya akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Selasa, 23 Juni 2026.
Bila direstui dalam RUPSLB, Organon LLC selaku pemegang saham utama dan pengendali akan membeli saham milik pemegang saham publik melalui mekanisme VTO.
Organon LLC menetapkan harga penawaran tender sukarela sebesar Rp100.000 per saham kepada pemegang saham publik. Angka ini lebih besar rata-rata harga tertinggi perdagangan harian dalam 12 bulan terakhir sebelum suspensi, yakni sebesar Rp32.063 per saham.
Rencana delisting SCPI diketahui telah bergulir sejak 13 tahun yang lalu. Perseroan telah mengeluarkan pengumuman niat delisting sukarela perseroan yaitu pada 22 Maret 2013.
Namun, proses delisting tak kunjung usai. Saham SCPI resmi dihentikan (suspend) pada 1 Februari 2013 dengan harga terakhir Rp29.000 per lembar.
Ada aturannya jika perusahaan akan delisting sukarela, pemegang saham pengendali membeli saham dari public dengan harga tertentu. Pemegang saham public terima uang dan tidak lagi menjadi pemegang saham perseroan.
Saat itu, saham SCPI yang dimiliki publik sebanyak 10,8% yang rencananya akan dibeli seharga Rp100 ribu per lembar saham. Aksi ini membuat SCPI merogoh kocek sebanyak Rp38,91 miliar.
SCPI telah melakukan tender offer pada periode 3 Desember 2018 hingga 3 Januari 2019. Waktu itu SCPI menawarkan Rp100 ribu untuk satu lembar saham. Namun tender Offer ini gagal.
Dari 46.464 saham publik, saham yang berhasil buy back hanya 2.800 saham dari 471 pihak yang memiliki saham tersebut, sehingga hanya berkurang menjadi 43.664 saham yang dimiliki oleh 440 pihak.
Hal itu kemudian membuat induk usaha yang ada di Amerika serikat melakukan spin off dan melepas sahamnya kepada anak usaha baru yaitu Organon & Co. Dengan demikian saham yang dimiliki publik berkurang menjadi hanya 1,21% saja.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]