IHSG Sesi 1 Anjlok 1,14% Tertekan Kinerja Deretan Saham Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles lebih dari 1% pada awal perdagangan Senin (11/5/2026), terseret tekanan jual di saham-saham big caps perbankan hingga konglomerasi.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada penutupan perdagangan sesi pertama  IHSG turun 79,12 poin atau 1,14% ke posisi 6890,27. Sebanyak 439 saham melemah, sementara hanya 236 saham menguat dan 138 stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp11,45 triliun dengan volume perdagangan 24,18 miliar saham dalam 1,7 juta kali transaksi.
Mengutip Refinitiv, tekanan terbesar terhadap IHSG datang dari saham perbankan jumbo. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi pemberat utama indeks dengan kontribusi penurunan mencapai 28,95 poin indeks. Sebagai informasi, hari ini saham BMRI memasuki periode ex date.
Selain BMRI, saham lain yang menekan laju IHSG yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 9,26 poin, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) 7,75 poin, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) 5,69 poin, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 7,84 poin.
DSSA dan BREN masih melajutkan koreksi dalam jelang pengumuman indeks MSCI pada 12 Mei 2026. Kedua saham ini diperkirakan akan ditendang dari indeks global tersebut.
Sementara itu, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), hingga PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) juga masuk jajaran top laggards indeks hari ini.
Di tengah tekanan pasar, hanya segelintir saham yang mampu menahan pelemahan IHSG. PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi penopang terbesar dengan kontribusi positif 26,90 poin indeks.
Sementara saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Permata Tbk (BNLI), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) turut menjadi penahan koreksi meski kontribusinya relatif terbatas.
Adapun pasar keuangan Indonesia pekan ini akan berlangsung pendek yakni tiga hari karena ada libur dan cuti bersama Peringatan Kenaikan Yesus Kristus pada Kamis dan Jumat.
Agenda krusial dari pasar modal domestik yang wajib diantisipasi pada 12 Mei 2026 adalah siklus rebalancing indeks MSCI. Berdasarkan pengumuman resmi MSCI tertanggal 20 April 2026, lembaga indeks global tersebut memberikan tanggapan atas reformasi transparansi pasar modal yang diinisiasi oleh OJK, BEI, dan KSEI.
Reformasi tersebut mencakup peningkatan keterbukaan pemegang saham di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan peningkatan batas minimal free float menjadi 15%.
MSCI saat ini sedang mengevaluasi ruang lingkup serta efektivitas dari sumber data baru ini dalam penentuan estimasi saham beredar publik atau free float secara lebih luas.
Untuk tinjauan indeks Mei 2026, MSCI menetapkan perlakuan interim khusus bagi efek asal Indonesia untuk membatasi risiko investabilitas. MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak akan melakukan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
Selain itu, MSCI tidak akan melakukan migrasi naik (upward migration) untuk sekuritas dari segmen Small Cap ke Standard. Kebijakan yang paling signifikan adalah keputusan MSCI untuk menghapus atau men-delete sekuritas yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia masuk dalam kerangka High Shareholding Concentration (HSC).
MSCI juga akan menggunakan data pengungkapan pemegang saham 1% untuk menyesuaikan estimasi free float jika diperlukan. Evaluasi lebih lanjut terhadap reformasi ini dijadwalkan akan dikomunikasikan kembali dalam Market Accessibility Review pada Juni 2026 mendatang.
(fsd/fsd) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]