Di Balik Lonjakan Kredit Investasi, Korporasi Ternyata Ngerem Ekspansi
Jakarta, CNBC Indonesia - Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tinggi pertumbuhan tinggi dana pihak ketiga (DPK) dan kredit perbankan sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, di tengah gejolak ekonomi global dan pasar keuangan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan pada Maret 2026, total kredit tumbuh sebesar 9,49% yoy menjadi sebesar Rp8.659,05 triliun. Menilik lebih lanjut, Kredit Investasi (KI) tumbuh tinggi 20,85% secara tahunan atau year on year (yoy) pada Maret 2026, jauh melampaui pertumbuhan jenis kredit lainnya.
Lonjakan kredit investasi ini menjadi sinyal bahwa dunia usaha masih agresif melakukan ekspansi bisnis dan pembangunan proyek baru.
Sementara itu, DPK tumbuh 13,55% yoy menjadi sebesar Rp10.230,81 triliun. Namun, bila dirinci, pertumbuhan didominasi oleh giro, yakni sebesar 21,37%.
Pertumbuhan giro yang merupakan dana murah (current account) bersifat likuid, kerap kali dikaitkan dengan sikap berhati-hati para pengusaha. Menempatkan dana di giro mengindikasikan para pengusaha lebih mengutamakan keamanan ketimbang ekspansi dengan mengambil risiko investasi atau kredit baru.
Para bankir mengungkapkan bahwa kenyataannya, para korporat tengah memasang sikap berhati-hati dan selektif.
Presiden Direktur CIMB Niaga (BNGA), Lani Darmawan mengatakan bahwa permintaan kredit sebenarnya masih lesu, termasuk kredit korporasi. Bahkan, ia menyebut kredit korporasi di bank swasta terbesar kedua itu hanya mencapai 4,5% secara tahunan atau year on year (yoy) sepanjang kuartal I-2026.
"Saat ini kenyataannya di market, loan demand masih lemah. Termasuk korporasi sehingga dana korporasi masih tersedia di market dan terlihat dari pertumbuhan current account yang masih bagus sementara pertumbuhan loan relatif lebih rendah," ujar Lani saat dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (7/5/2026).
"Jadi memang animo untuk investasi lewat kredit masih relatif rendah," lanjutnya.
Di sisi lain, Lani mengatakan CIMB Niaga tetap konsisten untuk prudent dalam menyalurkan kredit serta tetap menjaga kualitas aset kredit. Saat ini, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) bank itu berada di level 1,89%, di bawah rata-rata industri.
Bank milik perusahaan finansial asal Korea Selatan, OK Bank (DNAR) mengalami kondisi yang relatif sama dengan industri, yakni terdapat penurunan pertumbuhan kredit investasi dan kenaikan pada DPK korporasi.
Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal Alamsyah menilai kondisi ini mungkin saja terjadi karena korporasi cenderung menjaga likuiditas dan bersikap lebih selektif dalam ekspansi. Meski demikian, kenaikan KI dianggap sebagai bentuk keyakinan atas ekspansi jangka menengah hingga panjang yang prospektif.
"Namun, pertumbuhan kredit investasi yang relatif baik menunjukkan masih adanya keyakinan terhadap prospek jangka menengah-panjang, terutama untuk proyek atau sektor yang memiliki visibility dan cash flow yang kuat," kata Efdinal saat dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (7/5/2026).
Bank milik raksasa keuangan Korea Selatan lainya, KB Bank (BBKP) memaparkan bahwa portofolio pembiayaan masih didominasi oleh segmen wholesale dengan karakter pembiayaan jangka pendek hingga menengah. Lantas pertumbuhan kredit cenderung mengikuti kebutuhan operasional dan aktivitas bisnis nasabah.
Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie menyebut pertumbuhan Kredit Modal Kerja (KMK) yang cenderung moderat menunjukkan adanya penyesuaian ritme ekspansi pembiayaan di tengah kondisi pasar yang masih dinamis.
"Korporasi saat ini cenderung lebih selektif dalam menjalankan aktivitas operasional dan mengelola kebutuhan pembiayaan jangka pendek guna menjaga kualitas arus kas dan keberlanjutan usaha," jelas Kunardy saat dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (7/5/2026).
Ia mengatakan kondisi berbeda dengan kredit investasi yang secara karakteristik memiliki tenor menengah hingga panjang. Dengan demikian, kata Kunardy, pertumbuhan kredit investasi tetap mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap peluang dan proyek strategis yang memiliki fundamental kuat, profil risiko terukur, serta prospek pertumbuhan jangka menengah dan panjang yang positif.
Di sisi pendanaan, KB Bank terus mengoptimalkan struktur dana murah (CASA), sejalan dengan tren peningkatan dana giro di industri perbankan. Kunardy mengakui bahwa kenaikan dana giro yang signifikan dapat mencerminkan sikap wait and see dari sektor korporasi dalam menjaga likuiditas, cash buffer, dan fleksibilitas operasional di tengah dinamika ekonomi global maupun domestik.
"Kondisi ini sejalan dengan kecenderungan pelaku usaha untuk menunda ekspansi jangka pendek sambil mencermati perkembangan suku bunga, pergerakan nilai tukar, serta prospek permintaan pasar," tuturnya.
(ayh/ayh) Add
source on Google