Dolar Balik ke Rp17.300, Bos BI: Rupiah Tetap Stabil!

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Kamis, 07/05/2026 16:33 WIB
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan pemaparan saat konferensi pers hasil rapat berkala KSSK tahun 2026 di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (7/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap stabil. Nilai tukar rupiah tercatat kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (7/5/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berhasil mengakhiri perdagangan hari ini di zona hijau dengan apresiasi sebesar 0,29% ke level Rp17.330/US$. Ini adalah penguatan dalam dua hari beruntuk sejak kemarin, Rabu (6/5/2026).


Menurut Perry, tingkat pelemahan rupiah terjaga sebanding negara lain. Di sisi lain, cadangan devisa juga lebih dari cukup, yakni Rp 148,2 miliar per Maret 2026.

Di bidang moneter sudah diumumkan, kata Perry, BI mempertahankan suku bunga pada Februari, Maret dan April 4,75% untuk perkuat stabilitas rupiah

"Kebijakan moneter tersebut juga didukung berbagai kebijakan 7 langkah stabilisasi rupiah diantaranya intervensi spot, NDF, DNDF di berbagai pusat dunia Singapura, HongKong, London, New York dan perkuat SRBI untuk perkuat aliran modal asing, kata Perry, dalam konferensi pers KSSK, Kamis (7/5/2026).

Perry juga mengatakan BI membeli SBN sejak Mei Rp 123 triliun sebagai bagian kerja sama dan koordinasi moneter dan fiskal.

Untuk menjaga likuiditas, BI juga menjaga pertumbuhan uang primer. Data BI mencatat uang primer terakhir tumbuh 14% atau double digit.

"Ini didukung oleh pendalaman pasar valas diantaranya perkuat transaksi valas meningkatkan threshold pembelian dolar harus dengan underlying menjadi US$ 25.000 per bulan per orang. Juga pasar domestik rupiah dengan renmimbi untuk diversifikasi dari dolar ke yuan," katanya


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Dominasi Dolar AS Kuat, Apa Efeknya ke Pasar Derivatif Valas?