Bisnis Limbah TOBA Melonjak 5,5 Kali Lipat, Rugi Susut 83,8%
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten energi terbarukan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membukukan pendapatan kuartal I/2026 sebesar US$86,3 juta, tumbuh 20,6% secara tahunan. Adapun, lini bisnis pengelolaan limbah menjadi kontributor utama perusahaan dengan menyumbang 60% dari total pendapatan konsolidasi, atau 93% dari total EBITDA disesuaikan.
Pendapatan dari segmen bisnis pengelolaan limbah juga melonjak 447,69% YoY atau 5,5 kali lipat dari US$9,4 juta dalam kuartal pertama 2025 menjadi US$51,9 juta selama triwulan pertama 2026. Dari sisi laba, tekanan masih terlihat meskipun ada perbaikan signifikan. Rugi bersih tercatat menyusut 83,8% secara tahunan menjadi US$9,6 juta, sementara EBITDA yang disesuaikan tetap berada di level US$12,6 juta.
"Komposisi ini menegaskan pergeseran struktur bisnis TOBA yang semakin mengarah pada sumber pendapatan yang berulang (recurring) dan berkarakter defensif. Hal ini memberikan stabilitas pendapatan dari sebelumnya yang sangat tergantung pada fluktuasi harga komoditas batubara," ungkap Aditya Prayoga dari Phintraco Sekuritas, seperti dikutip dalam risetnya, Kamis (7/5/2026).
Mengacu pada paparan kinerja kuartal I 2026 TOBA, kontribusi anak usaha di segmen pengelolaan limbah di berbagai wilayah menjadi pendorong utama kinerja tersebut. Kontribusinya mencapai 59,9% dari total revenue.
Di Singapura, Cora Environment telah melayani lebih dari 470.000 pelanggan, dengan tingkat ketersediaan fasilitas operasional yang mencapai 100%. Sementara itu, Asia Medical Enviro Services (AMES) mempertahankan posisi strategis di pasar pengelolaan limbah medis Singapura, dengan pangsa pasar sekitar 45%, AMES menjadi salah satu pemain dominan di segmen yang memiliki barrier to entry tinggi dan standar regulasi ketat.
Di pasar domestik, ARAH Environmental Indonesia memperlihatkan ekspansi yang agresif dan telah melayani lebih dari 5.000 pelanggan di berbagai sektor yang tersebar di 15 provinsi.
Aditya menilai bahwa lonjakan kinerja segmen limbah menjadi katalis utama dalam memperbaiki profil risiko dan kualitas pendapatan TOBA. Menurutnya, kontribusi EBITDA yang semakin terpusat pada bisnis berbasis layanan dengan arus kas berulang memberikan stabilitas kinerja yang lebih tinggi serta mengurangi eksposur terhadap volatilitas harga komoditas.
"Ekspansi di sektor pengelolaan limbah juga sejalan dengan tren global menuju ekonomi sirkular dan praktik bisnis berkelanjutan. Hal ini berpotensi membuka peluang kemitraan strategis serta akses terhadap pendanaan hijau di masa mendatang." tambah Aditya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Eksekusi ekspansi lintas wilayah, pengelolaan biaya operasional, serta kepatuhan terhadap regulasi lingkungan yang semakin ketat menjadi faktor yang perlu terus dimitigasi. Namun, dengan fondasi operasional yang semakin kuat, risiko tersebut dinilai Aditya dapat dikelola secara prudent.
(ayh/ayh) Add
source on Google