Bank Mega Syariah Kantongi Laba Rp 79,97 M per Q1-2026, Naik 51%
Jakarta, CNBC Indonesia — Bank Mega Syariah mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp79,97 miliar pada kuartal I-2026. Perolehan itu meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar lebih dari 51%.
Peningkatan kinerja ini terutama ditopang oleh pertumbuhan pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang mencapai Rp191,60 miliar, naik lebih dari 20% secara tahunan atau year on year (yoy).
Dari sisi penyaluran dana, total penyaluran pembiayaan yang disalurkan tercatat lebih dari Rp9,26 triliun, atau tumbuh lebih dari 7,2% dari posisi akhir tahun sebelumnya sebesar Rp8,64 triliun. Sejalan dengan itu, total dana pihak ketiga (DPK) yang dikumpulkan mencapai lebih dari Rp10 triliun.
Bank Mega Syariah terus memperkuat bisnis pembiayaan yang tercermin dari pertumbuhan pendapatan berbasis piutang dan bagi hasil. Pendapatan dari piutang meningkat menjadi lebih dari Rp118 miliar atau tumbuh sekitar 40,9%. Sementara itu, pendapatan bagi hasil juga mengalami kenaikan tumbuh sekitar 4,7% atau menjadi lebih dari Rp114,73 miliar.
Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil dari fokus perseroan dalam memperkuat fundamental bisnis dan meningkatkan efisiensi operasional.
"Kami terus mengoptimalkan strategi bisnis dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan pengelolaan biaya dana. Di saat yang sama, kami juga memperkuat layanan kepada nasabah melalui inovasi produk dan sinergi ekosistem," ujar Hanie dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Dari sisi penghimpunan dana, Bank Mega Syariah secara konsisten melakukan optimalisasi struktur pendanaan guna menjaga efisiensi biaya dana. Strategi ini turut berkontribusi terhadap peningkatan margin, tercermin dari kenaikan Net Imbalan (NI) menjadi 5,85% dari sebelumnya 4,04%.
Selain itu, efisiensi operasional juga menunjukkan perbaikan dengan rasio BOPO menjadi 76,90% dari sebelumnya 85,08% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, permodalan bank tetap kuat dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) sebesar 27,63%. Perseroan tetap mencermati dinamika risiko pembiayaan.
"Ke depan, kami akan terus memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas aset, serta mengembangkan bisnis secara selektif dan berkelanjutan. Kami optimistis kinerja positif ini dapat terus terjaga hingga akhir tahun," tutup Hanie.
(mkh/mkh) Add
source on Google