Rupiah Bisa Bangkit Jika BI Lakukan Langkah Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan Federal Reserve untuk kembali menahan suku bunga menegaskan bahwa ketidakpastian global masih menjadi realitas utama yang harus dihadapi seluruh negara, termasuk Indonesia.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menunjukkan pendekatan yang semakin berhati-hati-tidak terburu-buru menurunkan suku bunga, namun juga belum sepenuhnya agresif-sebuah sinyal bahwa tekanan inflasi dan risiko global belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini pun dapat berdampak bagi Indonesia.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai jika kebijakan global bergeser menjadi less forward-looking dan lebih reactive terhadap realisasi inflasi dan risiko aktual, maka volatilitas akan menjadi 'the new normal'. Ini berarti negara seperti Indonesia harus jauh lebih sigap dan tegas dalam menjaga stabilitas.
Dalam konteks domestik, Fakhrul menekankan bahwa saat ini Rupiah berada dalam fase overshooting, yaitu kondisi di mana tekanan nilai tukar bergerak melampaui fundamental jangka pendek dan sedang dalam proses mencari titik keseimbangan baru.
"Rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting-mencari kestabilan barunya di tengah tekanan global. Dalam fase seperti ini, pasar membutuhkan sinyal yang jelas bahwa otoritas siap menjaga stabilitas. Begitu Bank Indonesia (BI) menunjukkan langkah siap melakukan monetary tightening, siap-siap rupiah akan bisa kembali menguat," kata Fakhrul, dikutip Senin (4/5/2026).
Oleh karena itu, ia menilai bahwa BI perlu mulai menunjukkan tightening bias yang lebih kuat sebagai bagian dari upaya menjaga kredibilitas dan meredam tekanan eksternal.
"Respons hawkish dari Bank Indonesia menjadi penting, bukan hanya untuk menahan tekanan nilai tukar, tetapi juga untuk mengelola ekspektasi pasar. Ini bukan soal mengejar The Fed, tetapi soal menjaga kepercayaan terhadap stabilitas domestik," ujarnya.
Di sisi fiskal, Fakhrul menyoroti pentingnya kepastian arah APBN, termasuk penyesuaian terhadap program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai bahwa langkah rasionalisasi dan kalibrasi belanja yang mulai dilakukan pemerintah merupakan sinyal positif bagi pasar.
"Penyesuaian anggaran, termasuk dalam program MBG, menunjukkan bahwa pemerintah responsif terhadap dinamika fiskal dan tidak terjebak dalam rigiditas. Ini penting untuk menjaga kredibilitas APBN di tengah tekanan global yang meningkat," katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pasar saat ini membutuhkan kejelasan terkait target fiskal dan strategi pembiayaan, terutama dalam konteks potensi tekanan dari harga energi dan kebutuhan belanja domestik.
"Kepastian target APBN menjadi kunci. Pasar harus melihat bahwa pemerintah memiliki ruang dan fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian tanpa mengorbankan disiplin fiskal. Ini akan menjadi jangkar utama kepercayaan investor," papar Fakhrul.
Fakhrul juga menambahkan bahwa berbagai reformasi yang telah berjalan, baik di sektor fiskal maupun pasar keuangan, mulai menunjukkan dampak yang positif, meskipun belum sepenuhnya tercermin dalam stabilitas pasar jangka pendek.
"Reform yang sudah dilakukan baik dari sisi transparansi pasar, pengelolaan fiskal, maupun koordinasi kebijakan harus terus dikomunikasikan secara konsisten dan terukur, jangan biarkan pasar dan masyarakat blank. Ini penting agar pasar memahami bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah volatilitas global," tegasnya.
Menurutnya, sinergi antara BI dan Kementerian Keuangan kini memasuki fase yang lebih menentukan, di mana kebijakan tidak hanya harus tepat, tetapi juga harus terlihat kredibel dan siap dieksekusi.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Andry Asmoro mengungkapkan pertemuan FOMC bulan April dengan tegas menolak pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Menurutnya, kombinasi dorongan inflasi yang dipicu oleh harga minyak, efek tarif, dan suara The Fed yang terpecah membuat suku bunga kebijakan tetap berada di kisaran 3,50%-3,75% hingga tahun 2027, dengan distribusi risiko condong ke arah kejutan yang agresif.
"Khusus untuk negara-negara berkembang dan Indonesia, ini menyiratkan tekanan berkelanjutan pada biaya pendanaan dolar AS, bias DXY yang lebih kuat, dan ruang terbatas bagi BI untuk melakukan pelonggaran secara agresif tanpa membahayakan stabilitas rupiah," kata Andry dalam laporannya, dikutip Senin (4/5/2026).
Sejauh ini, Andry melihat adanya nada agresif dalam pernyataan The Fed, dikombinasikan dengan penolakan terhadap kecenderungan pelonggaran kebijakan moneter, menandakan bahwa bank sentral AS berada dalam mode "tunggu dan lihat".
Dengan inflasi yang masih tinggi dan guncangan pasokan baru yang didorong oleh sektor energi yang ditambahkan di atas dampak kenaikan tarif yang belum terselesaikan, ambang batas untuk melanjutkan pemotongan suku bunga jelas telah meningkat. Namun, Andry menilai pemotongan suku bunga The Fed bergantung pada de-eskalasi yang jelas dari ketegangan di Timur Tengah dan kemajuan nyata pada inflasi inti menuju 2%.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]