MARKET DATA

BRI Tak Revisi RBB, Ekonomi Domestik Masih Kuat

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
30 April 2026 15:37
Layanan BRIsat Menjangkau Masyarakat
Foto: Dok: BRI

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menegaskan bahwa Perseroan belum akan melakukan revisi rencana bisnis bank (RBB) 2026 di tengah huru-hara ketidakpastian global. Wakil Direktur Utama BRI, Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari mengatakan pertumbuhan Perseroan sepanjang tahun ini masih sejalur dengan RBB.

Viviana menyebut BRI memproyeksikan penyaluran kredit mencapai 7% hingga 9% hingga akhir 2026. Sementara itu, kredit BRI tumbuh 13,7% sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.

"Nah, kami lihat bahwa sampai dengan kinerja BRI di bulan Maret 2026, itu masih di jalur yang sesuai dengan rencana bisnis yang telah kami buat sebelumnya," tutur Viviana dalam konfernsi pers Paparan Kinerja BRI Triwulan I-2026 secara virtual, Kamis (30/4/2026).

Selanjutnya, ia menyoroti sisi fundamental ekonomi domestik yang disebut masih stabil. Vivi menyebut konsumsi masyarakat dan aktivitas UMKM masih secara konsisten menjadi penopang utama untuk pertumbuhan ekonomi domestik.

"Sehingga memang kalau kita lihat kondisi saat ini, termasuk guidance yang kami berikan, kami belum merasa adanya kebutuhan untuk melakukan revisi terhadap rencana bisnis bank," ungkapnya.

Walau demikian, Vivi mengakui bahwa BRI tetap waspada mencermati situasi terkini, dan mengambil sikap adaptif terhadap dinamika kondisi eksternal.

"Tetapi memang kami akan tetap alert, tetap melihat situasi sehingga kami dapat bersikap lebih adaptif terhadap perkembangan kondisi eksternal terutama. Dan kami akan melakukan penyesuaian apabila nanti memang kami rasa diperlukan," pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Risk Management BRI, Ety Yuniarti menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin melakukan stress test, terlepas ada dinamika global atau tidak.

Dalam kondisi saat ini, Ety memaparkan parameter yang digunakan antara lain terhadap harga minyak. Namun, BRI menggunakan parameter seperti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), inflasi, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), kurs dolar AS, US dollar, dan yield surat utang AS.

Berdasarkan parameter-parameter tersebut, BRI memiliki berbagai asumsi ke depan, dan sejauh ini berekspektasi bahwa kondisi di semester II akan lebih membaik. Terlebih dengan harga forward minyak yang diekspektasi membaik di triwulan III-2026, sehingga harga minyak tidak akan melebihi US$100.

"Tetapi kalau misalnya iya, kami pun sudah melakukan asumsi pesimistik di sisi stress test, dan insya Allah dari sisi posisi pemodalan dan likuiditas masih relatif memadai. Jadi untuk menyerap potensi tekanan yang mungkin terjadi apabila oil price sampai dengan US$100," jelas Ety.

(fsd/fsd) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Sukses Transformasi, Bos BRI Optimis Hadapi 2026


Most Popular
Features