Tentara AS Didakwa Usai Ketahuan Cuan Rp6,8 M dari Insider Trading
Jakarta, CNBC Indonesia — Jaksa Amerika Serikat mendakwa seorang tentara yang terlibat dalam rencana penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, karena dugaan insider trading untuk meraih keuntungan di pasar. Tentara tersebut, Gannon Ken Van Dyke, disebut menghasilkan lebih dari US$400.000 atau sekitar Rp6,89 miliar.
Melansir Financial Times, Selasa (28/4/2026) dalam dakwaan federal yang dibuka pada Kamis, Van Dyke diduga menggunakan informasi rahasia untuk memasang taruhan di platform prediksi berbasis Blockchain, Polymarket. Ia disebut memanfaatkan informasi sensitif terkait operasi militer untuk keuntungan finansial pribadi.
Pelaksana tugas Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menegaskan bahwa personel militer dipercaya mengelola informasi rahasia untuk menjalankan misi secara aman dan efektif. Ia menekankan bahwa penggunaan informasi tersebut untuk keuntungan pribadi merupakan pelanggaran serius.
Blanche juga menyebut akses luas terhadap pasar prediksi merupakan fenomena yang relatif baru. Namun demikian, hukum federal terkait perlindungan informasi keamanan nasional tetap berlaku penuh dalam konteks tersebut.
Van Dyke yang merupakan tentara aktif di Fort Bragg, North Carolina, diduga pada Desember hingga Januari memasang sekitar 13 taruhan dengan total nilai US$33.034. Taruhan tersebut mencakup posisi seperti "US Forces in Venezuela" dan "Maduro out" sebelum 31 Januari.
Setelah meraih keuntungan sekitar US$409.881, Van Dyke disebut memindahkan sebagian besar dana ke brankas kripto luar negeri. Dana tersebut kemudian dialihkan ke akun broker daring baru.
Menurut dakwaan, Van Dyke juga berupaya menyembunyikan identitasnya di pasar prediksi. Hal ini dilakukan setelah muncul laporan aktivitas perdagangan tidak biasa yang terkait dengan kontrak Maduro di Polymarket.
Van Dyke didakwa dengan tiga tuduhan pelanggaran Commodity Exchange Act, satu tuduhan penipuan wire, serta satu tuduhan transaksi moneter ilegal. Setiap dakwaan memiliki ancaman hukuman maksimum antara 10 hingga 20 tahun penjara.
Kasus ini awalnya disidangkan di pengadilan federal North Carolina sebelum kemudian dialihkan ke pengadilan federal Manhattan. Jaksa wilayah New York Selatan, Jay Clayton, menegaskan bahwa pasar prediksi bukan tempat untuk memanfaatkan informasi rahasia demi keuntungan pribadi.
Pihak Polymarket menyatakan telah mengidentifikasi pengguna yang berdagang menggunakan informasi pemerintah yang bersifat rahasia. Platform tersebut kemudian melaporkan kasus ini ke Departemen Kehakiman dan bekerja sama dalam penyelidikan.
Van Dyke belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar dan belum ada informasi terkait penasihat hukumnya. Pentagon mengarahkan pertanyaan kepada Angkatan Darat AS, yang juga belum memberikan tanggapan.
Sebagai informasi, Amerika Serikat pada Januari melancarkan serangan di Venezuela dan berhasil menangkap Nicolás Maduro beserta istrinya. Keduanya diterbangkan ke AS dan didakwa atas sejumlah tuduhan termasuk konspirasi narkoterorisme, serta telah menyatakan tidak bersalah.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]