Nilai Tukar Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Turun ke Rp 17.185

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Senin, 27/04/2026 15:10 WIB
Foto: Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (27/4/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan pertama pekan ini di zona hijau dengan apresiasi 0,03% ke level Rp17.185/US$.


Sepanjang perdagangan rupiah bergerak cukup volatil. Pada pembukaan perdagangan, rupiah stagnan di level Rp17.190/US$, sama seperti posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Namun, rupiah sempat masuk ke zona merah hingga menyentuh level terlemahnya hari ini di Rp17.235/US$. Setelah itu, mata uang Garuda berbalik arah dan akhirnya ditutup menguat tipis.

Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY pada pukul 15.00 WIB terpantau relatif stabil di level 98,530.

Penguatan rupiah terjadi di tengah pasar yang masih berhati-hati melihat arah ekonomi global. Ketidakpastian dari luar negeri masih menjadi tekanan utama, mulai dari kebijakan tarif, suku bunga tinggi di Amerika Serikat, hingga konflik Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kondisi global saat ini masih penuh tantangan. Menurutnya, dunia sedang tidak baik-baik saja karena ketidakpastian masih tinggi dan ekonomi global cenderung melambat.

Hal tersebut disampaikan Perry dalam National Policy Dialogue dan Kick Off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI), Senin (27/4/2026).

"Dampak konflik Timur Tengah sungguh dicermati dan waspadai tidak hanya minyak tinggi dan tingginya suku bunga AS dan aliran modal keluar dan tekanan ekonomi kita," ujar Perry.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari pergerakan dolar AS, tetapi juga dari kombinasi risiko global yang lebih luas. Konflik Timur Tengah berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi, sementara suku bunga AS yang masih berada di level tinggi dapat membuat arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam kondisi seperti ini, rupiah menjadi lebih rentan bergerak volatil. Ketika investor global memilih aset yang dianggap lebih aman, tekanan terhadap mata uang negara berkembang biasanya ikut meningkat.

Perry menilai Indonesia perlu memperkuat sinergi untuk menjaga ketahanan ekonomi domestik. Bank Indonesia bersama pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, Danantara, pelaku usaha, dan investor mendorong program Percepatan Intermediasi Nasional atau PINISI.

Program ini diarahkan untuk memperkuat pembiayaan, mendorong realisasi proyek, serta menjaga momentum ekonomi dalam negeri di tengah tekanan global.

"PINISI kita harapkan dapat melakukan interaksi baik dalam kesepakatan, pembiayaan, dan realisasi proyek," papar Perry.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Anjlok & Dolar AS Sentuh Rp 17.100, Apa Yang Terjadi?