Breaking News! Dolar Sentuh Rp17.960
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda kembali mengawali perdagangan di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (4/6/2026).
Melansir data Refinitiv, nilai tukar rupiah dibuka di posisi Rp17.960/US$ atau terdepresiasi 0,11%.
Pelemahan ini membuat tekanan dari greenback terhadap rupiah masih jauh dari kata reda. Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup melemah tajam 0,62% ke level Rp17.940/US$.
Di pasar global, dolar AS sebenarnya sedikit terkoreksi pada pagi ini. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis ke level 99,437.
Namun, pelemahan tipis pagi ini terjadi setelah DXY menguat tajam 0,31% pada perdagangan sebelumnya dan ditutup di level 99,529.
Tren dolar AS yang masih kuat di pasar global menjadi salah satu ancaman bagi pergerakan mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Dolar AS kini bertengger di level tertinggi dalam dua bulan. Penguatan greenback terjadi setelah ketegangan baru di kawasan Teluk kembali mendorong kenaikan harga minyak dan menekan minat pelaku pasar terhadap aset berisiko.
Serangan Iran ke Kuwait dilaporkan merusak bandara dan melukai puluhan orang pada Rabu kemarin.
Di saat yang sama, militer AS juga melancarkan serangan di dekat Selat Hormuz. Kondisi ini membuat gencatan senjata yang sudah rapuh kembali tertekan dan menurunkan harapan atas penyelesaian diplomatik perang.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar kembali memburu aset berdenominasi dolar AS sebagai safe haven. Akibatnya, ruang penguatan mata uang lain cenderung menyempit.
Di tengah tren pelemahan rupiah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal sentimen yang berkembang di pasar.
"Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress-stress kalau (dolar) Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah isu seperti itu," kata Purbaya saat ditemui di DPR, Rabu (3/6/2026).
"Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah agak-agak," tambahnya.
Purbaya menegaskan pemerintah tetap menjalankan tugasnya untuk menjaga fondasi ekonomi agar aktivitas ekonomi tetap berjalan dan pertumbuhan bisa lebih cepat.
"Tapi kalau kita lihat kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi aja. Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat," tegasnya.
(evw/evw) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]