Rupiah Menguat 0,52%, Dolar AS Turun Dibawah Rp17.200

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Jumat, 24/04/2026 15:12 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (24/4/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di zona hijau dengan apresiasi sebesar 0,52% ke level Rp17.190/US$.

Penguatan ini sekaligus membawa rupiah kembali turun ke bawah level psikologis Rp17.200/US$, setelah pada perdagangan sebelumnya, Kamis (23/4/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 0,64% di posisi Rp17.280/US$, yang menjadi level penutupan terlemah sepanjang masa.


Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau masih menguat 0,07% ke posisi 98,833.

Rupiah mampu menguat di tengah tekanan eksternal yang masih cukup tinggi. Hal ini tercermin dari pergerakan indeks dolar AS yang tetap berada di zona penguatan, menandakan pelaku pasar global masih memburu greenback sebagai aset safe haven.

Sentimen global masih dibayangi mandeknya negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang membuat harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah kembali menipis.

Iran sebelumnya menunjukkan kontrolnya atas jalur strategis tersebut, sehingga waktu pembukaan kembali koridor pelayaran penting dunia itu masih belum jelas. Kondisi ini menjaga harga energi tetap tinggi dan terus membebani sentimen pasar global.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas rupiah melalui operasi pasar yang terukur dan berkesinambungan.

"Intervensi yang berkesinambungan akan terus kami lakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder," ujar Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dikutip Jumat (24/4/2026).

Selain intervensi valas dan pembelian SBN, BI juga terus mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik.

Dalam rilis RDG April 2026, BI menyebut strategi ini diarahkan untuk tetap menarik aliran masuk investasi portofolio asing ke pasar domestik.

Hingga 21 April 2026, posisi outstanding SRBI tercatat sebesar Rp885,41 triliun, dengan kepemilikan nonresiden mencapai Rp165,98 triliun atau sekitar 18,75% dari total outstanding.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Anjlok & Dolar AS Sentuh Rp 17.100, Apa Yang Terjadi?