MARKET DATA

Rupiah Menguat Lagi, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Rp17.140

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
21 April 2026 15:03
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (21/4/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan sore ini di zona hijau dengan apresiasi sebesar 0,15% ke level Rp17.140/US$. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya, Senin (20/4/2026), juga berhasil menguat 0,09% di level Rp17.165/US$.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah memang sudah bergerak positif sejak pembukaan. Pada awal sesi, rupiah tercatat terapresiasi 0,23% ke level Rp17.125/US$, bahkan sempat menyentuh Rp17.100/US$ sebelum akhirnya sebagian penguatannya tergerus hingga penutupan perdagangan.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,05% ke level 98,145.

Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini terjadi di tengah pergerakan dolar AS yang masih cukup dinamis.

Sepanjang hari, indeks dolar AS cenderung bergerak stabil dengan kecenderungan menguat. Meski demikian, rupiah tetap mampu memanfaatkan momentum untuk melanjutkan penguatannya terhadap greenback.

Pelaku pasar global saat ini juga masih mencermati perkembangan dari Amerika Serikat. Investor menunggu arah lanjutan delegasi AS dalam pembahasan geopolitik terbaru, setelah sebelumnya Wakil Presiden AS JD Vance yang semula diperkirakan memimpin delegasi dilaporkan masih berada di Amerika Serikat pada Senin.

Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada sidang di Senat AS yang akan menguji independensi kebijakan moneter Negeri Paman Sam, terutama di tengah kritik berulang dari Presiden Donald Trump terhadap Federal Reserve yang dinilai terlambat memangkas suku bunga.

Sidang ini menjadi penting karena berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, terutama akibat harga energi yang masih tinggi imbas perang di Timur Tengah.

Kondisi tersebut membuat pasar global masih bergerak hati-hati. Namun di tengah ketidakpastian itu, rupiah justru mampu mempertahankan penguatan hingga akhir perdagangan.

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Ditutup Stagnan, Dolar AS Bertahan di Level Rp16.690


Most Popular
Features