Ini Penyebab IHSG Galau, Pagi Hijau Siang Merah
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi di zona merah, Senin (20/4/2026). Indeks parkir di level 7.621,58, turun 12,42 poin atau -0,16%.Â
Sebanyak 387 saham turun, 305 naik, dan 267 stagnan. Nilai transaksi hingga siang ini mencapai Rp 9,36 triliun, melibatkan 23,1 miliar saham dalam 1,49 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun merosot jadi Rp 13.571 triliun.
Dua saham perbankan tercatat menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan. BBCA mencatat total transaksi Rp 1,17 triliun dan BBRI Rp 903,9 miliar. Selain itu emiten Bakrie, BRMS juga banyak ditransaksikan dengan nilai mencapai Rp 715,3 miliar.Â
Mengutip Refinitiv, ketiga saham tersebut juga menjadi penopang IHSGÂ agar tidak jatuh lebih dalam. Akan tetapi tidak cukup kuat untuk menahan koreksi emiten-emiten Prajogo Pangestu.Â
BRPT yang merosot 4,93% ke level 2.120 mengikis IHSG sebesar 6,19 poin. Lalu BREN yang turun 2,26% menyeret IHSG sebesar 5,53 indeks poin. Emiten Prajogo lain yang juga masuk dalam daftar top laggards siang ini adalah CUAN (-2,2 indeks poin) dan TPIA (-2,07 indeks poin).Â
Sebagai informasi, pagi tadi IHSGÂ membuka perdagangan dengan kenaikan 0,39%. Kendati sempat merosot ke zona merah pada awal-awal perdagangan, tetapi IHSGÂ berhasil kembali memantul ke atas.Â
Akan tetapi menjelang akhir sesi 1, IHSGÂ tidak mampu membendung tekanan dan berakhir di zona merah.Â
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile sepanjang pekan ini setelah Iran kembali memblokade Selat Hormuz setelah sempat menyampaikan gencatan senjata.
Di luar dinamika perang, pelaku pasar akan menyoroti keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diumumkan pada Rabu pekan ini.
Pengiriman melalui Selat Hormuz terhenti total pada Minggu setelah Iran kembali menegaskan kendali atas jalur perairan strategis yang menjadi kunci pasokan energi global, hanya beberapa hari sebelum gencatan senjata rapuh dengan Amerika Serikat dijadwalkan berakhir.
Negosiator utama Iran mengatakan pembicaraan terbaru dengan AS menunjukkan kemajuan, sementara Presiden Donald Trump menyebut ada "percakapan yang sangat baik" dengan Teheran.
Namun, kedua pihak tidak memberikan rincian spesifik. Kepala negosiator Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan kedua negara masih memiliki perbedaan besar terkait isu nuklir dan Selat Hormuz, dua hambatan utama dalam negosiasi.
Amerika Serikat menyatakan telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade, sementara Iran mengancam akan membalas. Situasi ini memicu kekhawatiran gencatan senjata kedua negara bisa runtuh sebelum berakhir pekan ini.
Iran juga menolak putaran baru perundingan damai yang direncanakan AS di Islamabad, sehingga prospek perdamaian makin tidak pasti.
Ketegangan ini membuat harga minyak melonjak. Minyak Brent crude naik sekitar 7% ke US$96,85 per barel, sementara futures S&P 500 turun 0,9% di awal perdagangan Asia.
Perang yang kini memasuki pekan kedelapan disebut telah memicu guncangan pasokan energi global paling parah dalam sejarah, terutama akibat gangguan di Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Pada Sabtu, Iran yang sebelumnya mengumumkan akan mengizinkan kapal melintas di Hormuz, berbalik arah dengan menuduh Washington melanggar perjanjian gencatan senjata karena tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Dari dalam negeri, agenda yang paling ditunggu oleh para pelaku pasar adalah pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada Selasa dan Rabu pekan ini (21-22/4/2026). Pada pertemuan bulan sebelumnya, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75%.
Langkah tersebut sejalan dengan fokus utama bank sentral untuk memitigasi dampak rambatan global dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Posisi Rupiah sebelumnya sempat mengalami tekanan hingga menyentuh Rp16.985 per dolar AS pada pertengahan Maret, yang dipicu oleh sentimen penghindaran risiko di pasar global.
BI juga akan mempertimbangkan dinamika laju inflasi domestik yang meningkat menjadi 4,76% secara tahunan pada Februari lalu. Mengingat realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal keempat 2025 yang solid di level 5,39%, Bank Indonesia dinilai masih memiliki ruang kebijakan yang memadai untuk mengelola stabilitas moneter.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]