Harga Minyak Melemah, tapi Masih Bertahan di Atas US$90

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
Kamis, 16/04/2026 10:20 WIB
Foto: CNBC Indonesia/Rivi Satrianegara

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Kamis pagi (16/4/2026), setelah pelaku pasar merespons peluang meredanya tensi antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan adanya jalur diplomasi baru membuat premi risiko geopolitik sedikit surut, meski gangguan pasokan global masih membayangi.

Menurut data Refinitiv pada pukul 09.30 WIB, harga Brent kontrak terdekat berada di US$95,19 per barel, naik tipis dibanding penutupan sebelumnya di US$94,93 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$91,60 per barel, lebih tinggi dari penutupan Rabu di US$91,29 per barel.


Meski posisi harga saat ini menguat dibanding penutupan terakhir, arah perdagangan global sempat tertekan pada sesi Asia. Pasar mencerna laporan bahwa Iran membuka peluang kapal-kapal kembali melintas di sisi Oman dari Selat Hormuz apabila tercapai kesepakatan untuk mencegah konflik baru. Jalur ini sangat vital karena sekitar seperlima arus minyak dan LNG dunia melewati kawasan tersebut.

Gedung Putih pada Rabu waktu setempat menyampaikan optimisme terkait peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran. Namun Washington tetap mengingatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran akan diperbesar bila tidak ada kemajuan. Di saat bersamaan, pejabat AS dan Iran dikabarkan mempertimbangkan perundingan lanjutan akhir pekan ini, dengan Pakistan kembali mengambil peran mediasi.

Pasar tetap berhitung hati-hati. Negosiasi antara Washington dan Teheran beberapa kali terlihat mendekati titik temu, lalu kembali buntu. Artinya, sentimen damai masih rapuh dan bisa berubah cepat sewaktu-waktu. Selama akses pelayaran di Hormuz belum sepenuhnya pulih, volatilitas harga diperkirakan masih tinggi.

Dari sisi pasokan, Amerika Serikat juga menambah tekanan lewat keputusan tidak memperpanjang izin tertentu yang sebelumnya memungkinkan pembelian sebagian minyak Iran dan Rusia tanpa terkena sanksi. Langkah ini berpotensi memperketat suplai di pasar internasional.

Sementara itu, data Energy Information Administration (EIA) memberi bantalan bagi harga. Persediaan minyak mentah AS turun 913 ribu barel menjadi 463,8 juta barel pada pekan yang berakhir 10 April. Angka ini berlawanan dengan ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan 154 ribu barel. Penurunan stok biasanya dibaca sebagai sinyal permintaan masih cukup solid.

Secara teknikal sederhana, Brent masih bertahan di area US$95 per barel setelah sempat melonjak ke atas US$99 pada 13 April. WTI pun bertahan di atas US$90 per barel. Itu berarti pasar belum sepenuhnya melepas premi risiko Timur Tengah. Untuk saat ini, diplomasi menjadi komoditas paling mahal di pasar energi dunia.

CNBC Indonesia Research


(emb/emb) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Minyak Tembus USD 110 - Rupiah Anjlok ke Rp17.000/USD