MARKET DATA

Damai AS-Iran Abu-Abu, Harga Minyak Masih Mendekati US$100

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
22 April 2026 10:45
minyak dunia
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia  - Harga minyak dunia bergerak melemah tipis pada perdagangan Rabu pagi (22/4/2026), setelah sehari sebelumnya melonjak tajam.

Pasar kini menimbang arah perundingan damai Amerika Serikat-Iran yang belum memberi kepastian, sementara jalur vital Selat Hormuz masih jauh dari normal. Kombinasi dua faktor itu membuat pasar seperti menekan pedal gas dan rem dalam waktu bersamaan.

Menurut data Refinitiv pada pukul 09.45 WIB, harga Brent berada di US$98,20 per barel, turun 0,28% dibanding penutupan sebelumnya di US$98,48. Sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$89,30 per barel, melemah 3,07% dari posisi sehari sebelumnya US$92,13 per barel.

Meski pagi ini terkoreksi, reli dalam beberapa sesi terakhir masih terasa kuat. Brent kini sudah naik 8,1% dibanding penutupan 17 April di US$90,38. Dalam periode yang sama, WTI melesat 6,6% dari US$83,85. Ini menandakan premi risiko geopolitik masih tebal di pasar energi global.

Sentimen utama datang dari keputusan Presiden AS Donald Trump yang memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, hanya beberapa jam sebelum masa berlakunya habis. Langkah itu diambil agar negosiasi lanjutan dapat berjalan, usai konflik dua pekan terakhir menelan ribuan korban dan mengguncang perekonomian global.

Masalahnya, pasar belum mendapat kepastian apakah Iran maupun Israel sepakat melanjutkan jeda konflik tersebut. Ketidakjelasan ini membuat trader enggan melepas premi risiko sepenuhnya. Selama ancaman pecahnya kembali pertempuran masih ada, harga minyak sulit turun dalam.

Di saat bersamaan, AS menegaskan Angkatan Lautnya tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Dari Teheran, kantor berita Tasnim menyebut Iran tidak meminta perpanjangan gencatan senjata dan tetap bertekad mematahkan blokade itu dengan kekuatan bila diperlukan. Pernyataan keras seperti ini menjaga tensi tetap tinggi.

Fokus lain ada di Selat Hormuz, jalur yang biasa dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia.

Lalu lintas kapal masih sangat minim, dengan hanya tiga kapal melintas dalam 24 jam terakhir. Selama nadi distribusi energi dunia ini tersendat, risiko gangguan pasokan akan terus menghantui pasar.

Pasar juga mendapat dukungan dari data persediaan minyak AS. Menurut American Petroleum Institute (API), stok minyak mentah AS turun 4,5 juta barel pekan lalu setelah tiga pekan sebelumnya naik. Persediaan bensin dan distilat ikut menyusut. Penurunan stok biasanya dibaca sebagai sinyal permintaan yang masih sehat atau pasokan yang mengetat.

Pelaku pasar kini menunggu rilis resmi dari Energy Information Administration (EIA) malam nanti. Jika data pemerintah mengonfirmasi penurunan stok besar, harga minyak berpeluang kembali mendapat tenaga. Namun jika angka aktual lebih lemah, pasar bisa memilih ambil untung setelah lonjakan tajam beberapa hari terakhir.

CNBC Indonesia

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kapal Tanker AS Disita Venezuela, Harga Minyak Gak Bergerak


Most Popular
Features