Biaya Naik & Margin Tergerus, Ancol (PJAA) Rugi Rp38 M di Q1-2026

mkh, CNBC Indonesia
Kamis, 16/04/2026 07:25 WIB
Foto: Dufan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. (Dok. Detikcom/Rumondang Naibaho)

Jakarta, CNBC Indonesia — Kinerja PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA) pada kuartal I-2026 menunjukkan tekanan yang cukup dalam, bahkan di tengah momentum libur Lebaran.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp207,58 miliar, turun tipis dari Rp210,80 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, penurunan tipis tersebut berujung pada pelemahan kinerja yang signifikan di bottom line. PJAA mencatat rugi bersih sebesar Rp38,43 miliar, membengkak dari rugi Rp11,32 miliar pada kuartal I-2025.


Tekanan kinerja terutama berasal dari lonjakan beban operasional. Beban langsung naik menjadi Rp140,99 miliar dari sebelumnya Rp129,70 miliar. Sementara itu, beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp64,72 miliar dari Rp59,44 miliar.

Kenaikan biaya tersebut membuat laba bruto tergerus tajam menjadi Rp56,35 miliar, dari Rp74,18 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Akibatnya, perseroan berbalik mencatat rugi usaha sebesar Rp14,39 miliar, dibandingkan laba usaha Rp17,41 miliar pada kuartal I-2025.

Padahal, kuartal pertama tahun ini turut mencakup periode libur Lebaran yang umumnya menjadi kontributor utama pendapatan sektor pariwisata. Kondisi ini mengindikasikan bahwa peningkatan kunjungan tidak serta-merta berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan, atau terdapat tekanan pada tingkat belanja per pengunjung.

Di sisi lain, beban keuangan masih menjadi penekan tambahan dengan nilai mencapai Rp16,90 miliar, mencerminkan beban utang yang masih cukup besar dalam struktur permodalan perseroan.

Meski demikian, terdapat sinyal positif dari sisi likuiditas. Arus kas dari aktivitas operasi melonjak signifikan menjadi Rp194,67 miliar, dari sebelumnya Rp22,42 miliar. Posisi kas dan setara kas pun meningkat menjadi Rp398,55 miliar pada akhir Maret 2026.

Kondisi ini menunjukkan bahwa secara kas, perseroan masih cukup solid. Namun, dari sisi profitabilitas, tekanan biaya yang meningkat di tengah stagnasi pendapatan menjadi tantangan.


(mkh/mkh) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Klaim Perang Hampir Berakhir - Rupiah di Rp17.100 per USD