Rupiah Lanjut Tertekan, Dolar AS Kini Sentuh Rp17.130

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Rabu, 15/04/2026 15:15 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dengan ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (15/4/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah 0,12% ke posisi Rp17.130/US$. Level ini kembali menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa. Pelemahan tersebut juga memperpanjang tren negatif rupiah menjadi lima hari perdagangan beruntun.


Padahal, pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah sempat dibuka menguat 0,06% ke level Rp17.100/US$. Namun, seiring berjalannya perdagangan, rupiah berbalik arah ke zona merah hingga akhirnya ditutup melemah.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia terpantau menguat tipis 0,04% ke level 98,159 pada pukul 15.00 WIB.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini sejalan dengan dolar AS yang cenderung stabil setelah sempat menyentuh level terendah dalam enam pekan pada perdagangan sebelumnya.

Sebelumnya, dolar AS tertekan akibat berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven dan penurunan harga minyak, di tengah harapan akan dimulainya kembali perundingan damai antara AS dan Iran.

Sentimen tersebut sempat membaik setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perang disebut sudah mendekati akhir dan Iran disebut ingin mencapai kesepakatan.

Namun kini, ketidakpastian masih tinggi. Beberapa laporan menyebut angkatan laut AS telah mencegat delapan kapal tanker minyak yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran sejak blokade dimulai pada awal pekan ini.

Kondisi ini membuat pelaku pasar masih menunggu perkembangan yang lebih konkret terkait prospek perdamaian.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tetap terjaga. Posisi ULN tercatat sebesar US$437,9 miliar, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$434,9 miliar.

Secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh 2,5% (year on year/yoy) pada Februari 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 1,7% yoy.

"Peningkatan posisi ULN tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, posisi ULN swasta mengalami penurunan," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Anton Pitono dalam rilis BI, Rabu (15/4/2026).

Di tengah tekanan geopolitik global, rupiah sebenarnya juga mendapat sokongan dari pandangan positif terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut ekonomi Indonesia tetap mendapat pengakuan dari pelaku pasar global dan lembaga multilateral.

Salah satunya datang dari Asian Development Bank (ADB) yang memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh stabil sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027, lebih tinggi dibanding realisasi 5,1% pada 2025. Proyeksi tersebut tertuang dalam laporan Asian Development Outlook April 2026: The Middle East Conflict Challenges Resilience in Asia and the Pacific.


(evw/evw) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Anjlok & Dolar AS Sentuh Rp 17.100, Apa Yang Terjadi?